In D Mind

In D Mind

  • WpView
    Reads 430
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 12 hours ago
WpInfo
Fiction
Romance
Highschool
Slice of Life
Suspense
"kemana?" Belum lagi pertanyaan adifa dijawab, laki-kali bernama jita itu telah berjalan lebih dulu. "sini telur gulung lo, hormat ke tiang bendera sampe istirahat" "enak aja, ini kan gue yang beli. Ngapain lo nyuruh gue hormat. Upacara tadi udah kali" "nih liat pake mata" jita memperlihatkan nametag OSISnya yang tertera nama dan jabatannya. Adifa hanya menatap nametag itu datar. "hormat" "udah bel, sinihin telur gulung gue" "nih" jita memberikan bungkus telur gulung itu, namun hanya bungkusnya karena isinya telah dimakan jita tanpa berdosa. "lo! Telur gulung gue, balikin" "la lo la lo, baru kelas 10 juga. Panggil gue abang" "males banget, telur gulung gue balikin" "buat jajan telur gulung sampe kenyang" ucap jita sambil tersenyum manis dan lebih dulu meninggalkan adifa yang memegang kantongnya mengambil uang itu. 'lumayan buat jajan' batin adifa dan pergi dari sana.
All Rights Reserved
#99
geng
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • THE VIP : GOLDEN HIGH SCHOOL
  • KAIREL [END]
  • Perihal Sandwich(End)
  • My Eternal Moon [ End ✔️]
  • ★BABY ZION★
  • In Another Life
  • SATU DARAH
  • Alara's Brothers (Telah Terbit)
  • GHAVARI

Sekolah. Sekedar- ladel atau judul untuk bangunan yang menjulang tinggi yang menerima ratusan remaja yang katanya menuntut ilmu pendidikan. Apa itu sekolah? Yang ia tahu tempat ini adalah jelmaan neraka yang menggerogoti jiwa pelan-pelan. "Lo!!! Benar-benar licik!!" Teriakan itu meledak ke udara penuh emosi yang tidak bisa di jelaskan. "Hahahaha." Tertawa menggema, palsu, dan nyaring. Tangan terangkat menghapus jejak air mata gaib, padahal tidak ada air mata yang turun dari netra cokelatnya, mata itu kering tangis itu hanya sandiwara. Tawanya padam secepat kilat, seketika wajah itu berubah serius, seolah tidak pernah mengenal tawa. "Thanks for the praising to me." Wajah yang tadinya tertawa ceria langsung tergantikan dengan wajah yang berubah dingin, bahkan aura mengintimidasi mencekam lawan. "Gue nggak suka basa-basi," katanya pelan tapi menusuk. "Keluar dari sekolah ini dan point lo untuk gue! Atau......." Senyumnya miring dan beracun terukir. "Scandal lo gue sebar," tersenyum smirk. Menatap wajah gadis di depannya yang sudah pucat. "Lo ngancem gue??" Sebisa mungkin siswi bernama Velena itu terlihat berani. Ia tidak mau kelihatan takut di depan gadis dengan tai lalat di ujung mata kanannya itu. "No!" "Hanya memberikan saran," ujarnya santai." Saran gue ini bagus, nyelametin lo dari rasa malu, kedepannya."

More details
WpActionLinkContent Guidelines