beautiful revenge

beautiful revenge

  • WpView
    LETTURE 4
  • WpVote
    Voti 3
  • WpPart
    Parti 1
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione mar, lug 19, 2022
WpInfo
SAGGISTICA
"Dia memang baik, tetapi tidak untuk mu. Dia tidak akan pernah mengampuni mu jika kau terus bertindak seperti ini! Akuilah kesalahan mu secepatnya, aku mohon." Sarah adalah siswa teladan di sekolah. Tetapi siapa sangka kalau seorang murid teladan dapat menjadi sasaran utama untuk terus ditekan di tempat mengerikan itu. Dia harus menahan sakit yang tak terkira di setiap harinya ia bersekolah. Tidak jarang dia terus di permalukan disekolah nya. Tidak ada yang tau siapa sebenarnya Sarah, bahkan kedua orang tuanya. Dendam selalu merasuki jiwa Sarah, rasanya ingin sekali Sarah mencincang halus seluruh tubuh orang yang sudah mempermalukannya di saat itu juga, tetapi dia menahan itu. Dia menahan nya...sampai dia menunjukkan siapa diri nya yang sebenarnya. "sebelum kau mati ditangan ku, aku akan terus disisi mu. Disisi mu, selamanya. Ingat itu wahai manusia."
Tutti i diritti riservati
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • ADIKARA ELUSIF (END)
  • My Nine Sisters
  •  THE NEXT ONE DIES
  • CAZEANA?
  • THE VIP : GOLDEN HIGH SCHOOL
  • TUBUH GADIS NERD [END]
  • Dark side (END)
  • SARAVERA [COMPLETED]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti