Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.
RUNNING

RUNNING

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 20, 2022
Ghea yakin kemarin semuanya masih baik-baik saja. Ayahnya pergi bekerja lalu ibunya pergi ke butik dan dirinya tengah sibuk menyusun skripsi. Semalam bahkan ia masih bermimpi dalam tidurnya, lalu bagaimana bisa hari ini semuanya berubah? Dari tempatnya duduk sekarang, ia bisa melihat karangan bunga berjejer rapi memenuhi halaman rumahnya, puluhan orang berpakaian serba hitam datang bergantian. Bukan itu saja, suara isak tangis memenuhi ruang tamunya. Ghea bahkan masih belum tahu ke mana perginya sofa besar yang memenuhi ruangan ini. Kini hanya terdapat karpet yang digelar dengan beberapa orang duduk mengelilingi sesuatu yang sejak tadi menjadi sumber tangis keluarganya. Sesuatu berupa dua tubuh manusia yang sudah terbujur kaku. Ghea mengerjap, bersamaan dengan cairan bening yang jatuh melewati pipinya. Ia ingin bersuara, tetapi suaranya hanya sampai tenggorokannya saja. Ghea lalu menatap jenazah orang tuanya lagi, sudah, semuanya sudah berakhir. Tadi pagi sekitar pukul tiga, ia mendengar suara berisik dari luar kamarnya. Saat ia pergi untuk memeriksa, tidak ada apa pun kecuali kamar orang tuanya yang terbuka. Tanpa ragu ia masuk, dan pemandangan di depannya seketika membuat lututnya lemas. Noda merah menghiasi selimut orang tuanya. Perlahan ia merangkak mendekati mereka dengan jantung berdebar dan perasaan cemas yang luar biasa. Ghea hampir pingsan saat melihat darah mengalir dari leher ayah dan ibunya, saat itu juga kepalanya pening begitu menyadari nadi mereka sudah tidak berdenyut. Dunia sudah benar-benar gila. Dalam semalam, ia kehilangan orang tuanya. Dalam semalam, seseorang bisa merenggut dua nyawa sekaligus. Dalam semalam, hidupnya berubah. Dalam semalam- "Ayo, Ghea. Waktumu habis, kamu harus ikut kami sekarang." -ia dituduh menjadi tersangka pembunuhan orang tuanya.
All Rights Reserved
#5
running
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Devil in Your (ANGGARANTA)
  • Katanya Jadi Anak Terakhir Enak - WOONHAK [Terinspirasi dari kisah nyata]
  • Dinding Sunyi
  • ALGENTA
  • SILENCED AT 302 [END]
  • Doctor Chef [ TERBIT ] -Order By 0851.6281.3004
  • Tentang Kota Ini
  • Kartu As ditangan Deidad
  • Jejak bayang
  • Tunduk: Malam-Malam Milik Tuan

[PROSES REVISI] Series pertama Anggaranta Bagaimana rasanya, difitnah oleh keluarganya sendiri, sakit!! ia hanya bisa menangis bodoh dan tersenyum miris akan semua. Diusir karena ego lebih kuat. Dibuang layaknya sampah. Hanya karena, seorang yang licik penggila harta. "Abang, gak benci sama Gea kan? Mereka aja benci sama Gea." tanya Gea sendu. 'Gimana bisa gua benci lo, sedangkan mereka yang penjilat harta malah gua sayang?' "Gak! Geo gak benci. Geo udah tahu semuanya. Mereka cuma manusia busuk penjilat harta yang kebetulan terlahir di keluarga berada." jelas Geo menahan tangisnya. 'Gua udah tau semuanya ya. Makanya, gua gak mau lagi tinggal di kandang iblis itu.' "Gua udah tau semuanya. Mereka cuma mikirin tentang harta. Bahkan, papa yang notabe-nya sayang sama kita aja, itu digaji sama oma setiap harinya. Geo udah sadar sekarang, mereka cuma kecoak yang hanya bisa mengotori dunia." sambung Geo lagi. 'Geo cuma sayang Gea. Semua adalah lalu kecuali Gea.' "Abang sampai-sampai gak habis mereka. Otaknya berisi tentang harta doang. Ada ya, manusia kejam kaya mereka?" tanya Geo seraya tersenyum miris. 'Abang, udah ngerti soal itu yah?' "Abang, dengerin Gea. Itu emang udah jadi takdir mereka." tutur Gea lembut. "Tetep aja Ya. Mereka terlalu kejam memisahkan kita." balas Geo lagi. "Bukan dunia yang kejam, tapi manusia yang menginjakkan kakinya di sana." ••• Ryan terkekeh sinis, "Papi? Sejak kapan anda menjadi papi saya?? Hm?" tanyanya dengan cekikikan. 'Apa-apaan sikap ini!?!' Hendrik menatap murka anaknya itu, "Kau harus terima, atau marga Wijaya saya cabut dari namamu." ancamnya lagi. Ryan menatap sengit pria paruh baya itu, lalu tersenyum miring. "Apa anda berani??" tanyanya menantang. "Tentu saja saya berani! Saya adalah pemilik dan penguasa marga Wijaya. Jadi, untuk apa saya takut hanya untuk mencabut nama Wijaya dari bocah ingusan sepertimu!" gertaknya mengancam, suasana berubah semakin mencekam. [END]

More details
WpActionLinkContent Guidelines