MONOLOG RASA

MONOLOG RASA

  • WpView
    LECTURAS 27
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 7
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, jun 28, 2023
"Kamu mau kemana?" tanya Kara, lelaki itu berlari kecil menghampiri gadis berambut coklat tersebut. "Pergi." Jawabnya lirih. Kala tetap pada langkahnya, berjalan cepat. "Pergi kemana? Biar aku yang antar." Kara meraih pergelangan tangan Kala, membuat keduanya berhenti dan beradu pandang. "Ke tempat yang menganggap ku ada dan kau cukup diam disini, di tempat yang hanya ada kamu dan duniamu di dalamnya." Kala menepis cekalan tangan pria yang bertubuh tegap tersebut. Ia melangkah pelan namun pasti, meninggalkan tempat yang tidak pernah ada Ia di dalamnya. Askara terdiam, melihat belakang punggung perempuan pemilik nama indah tersebut. "Sudah jauh ini kah aku mengabaikan mu? Sampai kamu memilih pergi dari tempat yang sempat kau sebut sebagai duniamu?" Ujar Kara monolog.
Todos los derechos reservados
#863
poetry
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • Kara: I Left God at The Door
  • ALLAND
  • KIARA [END]
  • When Our Hands Meet
  • Diantara mereka
  • SAME BUT DIFFERENT (Vkook/taekook)
  • tentang sebuah rasa
  • ARTEMIS

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido