Candala dalam Asa

Candala dalam Asa

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 22, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Kadang dia berharap esok pagi dia tidak terbangun dalam tidurnya. Terus terlelap hingga rasa lelahnya terbayarkan. Namun, baskara tetap mengibarkan cahayanya pada buana setiap pagi itu datang. Meski ayam berkokok tak ada lagi terdengar dalam radius di sekitar perumahan tempatnya tinggal, maupun perumahan-perumahan lain hingga ke kota besar yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit itu. Masih ada alarm yang berbunyi samar dekat telinganya, membangunkannya setiap pagi. Setelah itu arunika menyambutnya yang baru melangkahkan kaki keluar rumah. Kadang pula ia berharap bisa pergi jauh. Sejauh mungkin. Hingga tak ada yang bisa menyusulnya. Pergi ke belahan bentala lain. Bertemu bumantara yang menaungi tempat lain. Bukan terperangkap terus-menerus dalam ketakutan yang kian menghimpit hati. Apalah daya, itu hanya sekedar angan, bagaikan asa yang tak lebih, tak bukan hanyalah keputusasaan dari dalam hatinya yang kian hari, kian retak. Dia harus bisa mendekap renjana seerat mungkin, agar saat kembali terambau dirinya bisa bangkit sebaik mungkin.
All Rights Reserved
#577
brotherhood
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Between us
  • ALBARISUS ✔
  • Deberìa Redirme? (End)
  • Perjalanan Kehidupan Kedua (end)
  • LENGKARA
  • DOPAMINE [HIATUS]
  • Eliinaa
  • Desir Arah

Januka Arshad tumbuh dalam diam. Anak yang terlalu sering ditinggal, terlalu lama menunggu pelukan yang tak pernah datang. Dibesarkan di antara suara pertengkaran, janji palsu, dan dinginnya kasur kosong... ia jadi ahli menyembunyikan luka di balik senyum kecil yang dipaksakan. Sampai suatu sore yang muram, di bawah hujan dan di halte yang sepi, ia bertemu Serena-gadis bermata helang yang sinis, tajam, dan seolah paham rasa sakit tanpa harus dijelaskan. Serena tidak menunggu siapa-siapa. Ia berhenti berharap sejak lama. Bedanya dengan Januka hanya satu, Serena sudah mati rasa, sementara Januka masih menggenggam sisa-sisa harapan. Mereka tertawa bersama. Saling menyembuhkan. Hingga pada akhirnya, kebenaran datang seperti petir yang menyambar.

More details
WpActionLinkContent Guidelines