Take My Hand

Take My Hand

  • WpView
    Reads 37
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Feb 21, 2023
Andai aku sadar lebih cepat, aku pasti sudah kabur dari rumah itu sejak lama. Namun setelah kabur, kemana tempat yang harus aku tuju? Aku bahkan tidak punya tempat untuk bersandar. Bukan aku yang memilih untuk dilahirkan seperti ini, bukan salahku jika aku tidak punya pilihan. Memang dari awal aku tidak bisa apa-apa, tubuh ini merasa hidup jika ada yang membutuhkanku, menyadari keberadaanku, dan menatap mataku ketika aku berbicara. Aku menunggu orang-orang itu. Tanganku sudah terentang sejak lama agar orang tersebut dapat menggapainya. Tolong siapapun gapai tanganku dan keluarkan aku dari sini. *** "Ingat El, posisimu disini bukanlah siapa-siapa. Kau harus sadar, jika kau lakukan yang terbaik, maka kau akan dilihat oleh orang lain." **** Ellora tidak ingin hidup seperti ibunya. Hanya mengandalkan peruntungan hidup sebagai orang kaya baru dikeluarga asing, lalu meninggal tanpa pernah dikenang. Selama hidupnya tidak pernah dihargai atau dibutuhkan. Hanya sebagai penghias dirumah besar nan mewah. Ia tidak menginginkan kehidupan seperti itu. Ia ingin dibutuhkan dan disadari keberadaannya. Hingga suatu saat, dirinya benar-benar sudah pasrah dengan kata hidup, seorang pemuda mengulurkan tangannya pada Ellora. Uluran tangan yang tentu ia sambut dengan keraguan besar. Ia punya firasat, jika pemuda itu akan membawanya ke tempat yang seharusnya tak boleh ia ketahui. UPDATE TIAP HARI (kecuali sibuk) UPDATE HARI MINGGU (2 CHAPTER) Sengaja, karena aku mau buru-buru namatin projek ini.
All Rights Reserved
#3
esme
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • NOESIS [END]
  • Ex or New? [REVISI]
  • ADYRA
  • ALVIN (On Going)
  • ERLANGGA (ON GOING)
  • sraddah (on going)
  • Misteri- US
  • ELZEAN [On Going]

Setiap pagi dimulai dengan nada yang sama. Nada yang tidak asing, tapi juga tak pernah benar-benar diingat. Seperti dengung lembut yang tumbuh dari dinding, atau bisikan yang terlalu sopan untuk membangunkan siapa pun. Anak-anak terbangun perlahan. Mereka tahu kapan harus duduk, kapan harus tersenyum, dan kapan harus mengatakan "terima kasih" pada sesuatu yang tidak pernah mereka lihat. Langit tak pernah berubah. Lantai tak pernah berdebu. Hari-hari disusun rapi seperti barisan seprai yang terlipat. Tidak ada yang jatuh. Tidak ada yang hilang. Kecuali... sesuatu yang tidak pernah disebut. Di antara semua yang seragam, ada satu yang tidak persis cocok. Seorang anak perempuan yang terlalu tenang, terlalu sering diam di tengah keramaian, dan matanya-selalu mencari sesuatu yang tidak terlihat orang lain. Serene. Ia menulis hal-hal kecil di balik kertas tugas. Hal-hal yang tidak pernah diajarkan, dan tidak boleh ditanyakan. Ia mencatat kapan musik terasa sedikit lebih sendu, kapan suara langkah di lorong tidak cocok dengan jumlah kaki. Orang bilang Serene hanya anak yang suka berpikir. Anak yang tidak pernah nakal, tidak pernah melawan. Tapi mereka tidak tahu... diam itu kadang bukan berarti lupa, melainkan mengingat terlalu banyak. Dan pagi-pagi di tempat ini, yang seharusnya hangat dan tenang, perlahan mulai terdengar berbeda- bukan karena ada suara baru, tapi karena seseorang mulai benar-benar mendengarkan. [Update setiap Malam] 《DISCLAIMER》 [DON'T COPY PASTE MY STORY!!] *Aku butuh sebuah 🌟 agar mereka yang tak terlihat tidak mendekat * Start = 14 mei 2025 Finish =

More details
WpActionLinkContent Guidelines