Rumpang/Rampung

Rumpang/Rampung

  • WpView
    Reads 23
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 24, 2022
WpInfo
Non-Fiction
"Kalau kita ada di dalam sebuah novel, kamu akan memilih untuk menjadi apa?" "Aku kapal pesiar ... dan kamu dermaga." "Alasannya?" "Aku hanya singgah dan berlabuh sembari bercerita tentang kapal-kapal lain." Lama ia terdiam, kemudian melirikku, "sedangkan kamu kerap kali dihampiri kapal dari berbagai arah." Aku diam, kemudian ia melanjutkan, "bedanya aku hanya kapal kayu, gak ada satu hal pun yang bisa membuat aku terlihat lebih dari kapal lain." Aku tertawa, begitupun dia. "Kapal kayu juga bagus kok," ucapku dan kami kembali tertawa. Begitulah percakapan terakhir kami sebelum semuanya benar-benar usai.
All Rights Reserved
#8
rampung
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • Mahligai Sunyi
  • TARGETNYA SALAH (TAMAT)
  • My favorite person
  • pernah yang tak kan terulang kembali(love story from the author)
  • Terima Kasih, Rumah
  • Kopi & Deadline (On Going)
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • ALZEA
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines