Nyctophilia

Nyctophilia

  • WpView
    Reads 573
  • WpVote
    Votes 52
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 15, 2023
WpInfo
Fanfic
Miraculous Ladybug
"Bahagia bersamaku, mau?" Laki-laki itu menatapnya dengan dalam, dengan tangan yang berada di atas kepalanya itu bergerak mengelus dengan lembut. Dengan laki-laki ini, semuanya akan kembali baik-baik saja, kan? *** Gelap tidak selalu menyeramkan. Malam juga tidak selalu menakutkan. Bahkan angin pun tidak selalu membuat kedinginan. Mereka selalu menyuruhku untuk pulang. Memangnya ke mana aku harus pulang? Sedangkan rumahku sudah tidak mempunyai tiang. Rumahku juga sudah tidak mempunyai atap. Hancur, bahkan. Mereka menyuruhku untuk tidak berteman dengan kegelapan. Katanya, gelap itu kesialan, gelap itu menakutkan. Tapi bagiku, tanpa mereka tahu, aku menemukan sebuah keberuntungan. Aku kembali mendapatkan pelukan. Aku menemukan rumah untuk pulang... rumah yang berwujud seseorang. *** ⚠️Beberapa part mengandung kekerasan, harap bijak dalam menyikapi. Cover//pinterest *** © @Analaa0_
All Rights Reserved
#27
runtuh
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BarraKilla
  • Arkan & Bandung
  • Bayi Dosenku 2
  • ZiAron [END]
  • Cool Beauty
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • Eliinaa
  • Mari Kita Berdamai dengan Luka  (TAMAT)
  • Serpihan Luka
  • Your Home [COMPLETE]

LENGKAP! Follow akun ini sebelum baca🐧 Warning! Peringatan! Cerita ini bisa membuat kalian mengumpat, menangis, dan tertawa (jika satu SELERA)🍭 "Barr, aku juga nggak tahu kenapa Raden nyium aku." "Shit! Diem, Bego!" "Maaf." "Tahu nggak, kenapa gue nerima lo jadi pacar gue? Padahal lo yang nembak gue duluan di UKS dengan nggak punya malunya." "...." "Lo itu menyedihkan, Killa. Sangat menyedihkan. Gue selama ini cuma.... kasihan sama elo." "Barra, dada aku sakit." "See? Lo minta dikasihani lagi?" "Maaf." "Dan lo selalu mengatakan maaf biar lo semakin dikasihani." "Barra, kamu beneran mau aku pergi?" "Lo masih mau di sini? Nggak tahu diri banget. Habis ciuman sama suami orang, masih mau sama gue. Karena cuma gue yang bisa ngasih lo segalanya. Gue jijik sama elo." "Makasih, ya, udah mau jadi pacar Killa. Udah mau bahagiain Killa. Hehehe. Kita akhirnya pisah." "Gue nggak mau lihat lo lagi." "Hehehe." "...." "Barrabas Mahesa, makasih udah pernah jadi yang terbaik buat Killa." I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. I loved, and I loved and I lost you. Titik tertinggi mencintai adalah tahu diri untuk menerima sebuah kehilangan. "Barra, kenapa cara kamu mencintai aku kayak gini?" • Demi kenyamanan Anda saat membaca, disarankan memfollow akun penulis terlebih dahulu. • Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dalam cerita ini tanpa izin tertulis dari penulis. Semua yang ada dalam cerita ini murni hasil pikir penulis, maaf jika ada kesamaan nama, tempat, karakter, dan sebangsa itu. Selamat membaca!

More details
WpActionLinkContent Guidelines