Asisten Tuan Gara

Asisten Tuan Gara

  • WpView
    GELESEN 3
  • WpVote
    Stimmen 2
  • WpPart
    Teile 1
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Mo., Juli 25, 2022
"Tuan! Aku mau kau mengajariku berciuman!" Uhuk! Uhuk! "Apa katamu?! Berciuman?! Astaga! Berapa umurmu saat ini, Rel?! Kau belum pernah berciuman sebelumnya?!" *** Sejak awal, hubungan antara Aurelia Aurita dan Sagara Kencana bukanlah sebuah hubungan yang terjalin dengan baik. Insiden memalukan yang terjadi di lapangan basket hingga berakhir dengan acara kutuk mengutuk itu seolah menjadi penentu takdir benang merah yang mengikat keduanya. Tahun demi tahun berlalu, semesta kemudian secara jail kembali mempertemukan mereka dalam sebuah insiden memalukan yang diawali dengan notifikasi keramat dari sebuah aplikasi ojek online. Sedikitpun Aurel tidak menyangka, jika keputusannya menerima order hari itu justru membawa dirinya terjebak dalam kuasa seorang Gara. Sosok pria yang dulu ia kagumi setengah mati, kini berubah menjadi musuh teratas yang harus ia musnahkan dari muka bumi ini. Lantas bagaimana nasib Aurel selanjutnya?
Alle Rechte vorbehalten
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • Basket dan Voly
  • Naruto : Power To Heal And Destroy
  • Qiyamah Senja-completed
  • Aurelia Maeva Sinclair
  • Gus Zidan My Husband [SUDAH TERBIT]
  • EX - Throwback to the memories
  • TOUCHED (End)

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien