Sengap
  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 25, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Katanya, bungkam tak selalu baik, mari suarakan kebenaran! Dan itu benar, tapi menyuarakan kebenaran bukanlah perihal yang mudah bagi pengecut sepertiku. Segala ketakutan untuk menyuarakan kebenaran itu selalu menghantuiku, padahal ini bukan lagi tahun sang Jenderal berkuasa. Bukan zaman dimana ketika bicara, maka penjara. Nasibku takkan seburuk Wiji yang hilang tak diketahui keberadaannya hingga kini, takkan seperti Pram yang mendekam di pulau buru, atau bahkan seperti Munir yang mati diberi arsenik
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tanah yang tak pernah diam
  • Dibawah atap yang salah (hiatus)
  • Harapan Bunga Terakhir
  • Entah Bagaimana
  • Kehidupan Dalam Paragraf (Part 1)
  • Mystery Files: Light of Catastrophe
  • Truth (Edisi Revisi)
  • My Way [END]
  • viewpoint
  • Jejak Dalam Diam [SELESAI✓]

Di tanah yang disebut merdeka, sejarah sering kali dibungkam. Tanah yang Tak Pernah Diam mengangkat kisah yang tak tertulis dalam buku pelajaran-kisah luka, pengkhianatan, dan keberanian yang terkubur di balik bendera kebangsaan. Lewat mata Sena, seorang jurnalis muda yang tak sengaja menemukan arsip rahasia kolonial, kita dibawa menyusuri jejak para buruh paksa, perempuan yang diperdagangkan, dan anak-anak yang hilang di balik nama pembangunan. Bersama Raras, seorang dosen yang tak gentar melawan sistem narasi resmi, mereka menyingkap lapisan demi lapisan dusta yang telah diwariskan selama generasi. Di desa-desa sepi, di bawah akar-akar pohon tua, di catatan yang nyaris dibakar-mereka temukan suara-suara yang selama ini dipaksa diam. Dan suara-suara itu mulai bersatu, membentuk gelombang kebenaran yang tak bisa lagi dibendung. Ini bukan sekadar novel sejarah. Ini adalah seruan-bahwa bangsa yang besar bukan yang pura-pura lupa, tapi yang berani mengingat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines