She is Him forever

She is Him forever

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 23, 2023
WpInfo
Non-Fiction
Dia yang selalu tersenyum. Melakukan semua hal yang dilakukan remaja umumnya dalam menikmati masa indah untuk berexplore diri, menjelajahi kebebasan dengan batasan wajar. Bercakap ria, menjelajahi aneka rasa lidah dalam proses amunisi perutnya atau mencari satu tempat ke tempat lainnya dalam menelusuri rasa penasaran anak muda untuk berekspresi diri. Dia adalah dia, Menebar tawa, merangkul pundak yang jatuh, mengajarkan rasa sederhana dalam menikmati hidup, berprinsip tinggi pada pendirian, mempunyai juta-juta impian yang tersarang dalam otak kecilnya untuk mengubah dunia di dalam pandangan matanya.
All Rights Reserved
#455
struggle
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RIMBA MERUN
  • GRIZELLE [Completed]
  • The Fifth Taste
  • Jejak Lantai Dansa
  • Kami Tumbuh Dari Ledakan
  • Di Balik Kacamata [END]

Di Rimba Merun, kami belajar di sebuah sekolah kecil yang nyaris tak pantas disebut sekolah. Atapnya bocor. Dindingnya reyot. Buku-bukunya lebih tua daripada sebagian guru kami. Tetapi dari tempat itulah kami mengenal dunia-aku, Elang yang terlalu pintar, Badar yang hampir selalu mendapat nilai nol tetapi mampu membaca sungai seperti buku, Lee, Boih, Munisa, Seruni, dan anak-anak lain yang percaya bahwa kehidupan tak mungkin lebih rumit daripada ujian Matematika. Kami keliru. Hari-hari kami sebelumnya hanya dipenuhi perkara-perkara penting: menangkap ikan di Way Semah, melempar batu sampai dua puluh pantulan, berlari tanpa alas kaki, menghindari hukuman guru, dan mempertaruhkan harga diri dalam perlombaan-perlombaan yang hadiahnya bahkan tidak ada. Sampai suatu hari, orang-orang asing datang ke Rimba Merun. Mereka membawa peta tanah. Lalu menancapkan patok-patok ke tanah yang sejak lahir kami anggap milik kami. Awalnya kami tidak peduli. Orang dewasa selalu mempunyai urusan aneh yang tidak menarik bagi anak-anak. Namun patok-patok itu semakin banyak. Hutan mulai ditandai. Tanah mulai diukur. Orang-orang Dusun mulai berbisik. Dan suatu hari kami menyadari sesuatu. Garis patok itu menuju sekolah kami. Saat itulah permainan berakhir. Kami hanyalah anak-anak dusun. Kami tidak mempunyai uang, kekuasaan, ataupun orang penting yang bisa dimintai pertolongan. Yang kami punya hanyalah sebuah sekolah reyot, persahabatan, beberapa sepeda tua, keberanian yang kadang muncul pada saat yang salah-dan Elang, yang mulai mencurigai bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di Rimba Merun. Kami belum tahu bahwa usaha mempertahankan sekolah kecil itu kelak akan membawa kami berhadapan dengan orang-orang yang bahkan orang dewasa takut menyebut namanya. Dan kami sama sekali belum tahu bahwa suatu hari nanti, sebuah kata akan dituduhkan kepada kami. MAKAR. Padahal waktu itu, kami bahkan masih kesulitan memahami perkalian tujuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines