The Untouched Mistress

The Untouched Mistress

  • WpView
    Leituras 61
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Capítulos 19
WpMetadataReadMaduroEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização qua, abr 1, 2026
WpInfo
Ficção
Histórico
Batavia, 30 Januari 1942 merubah rumah kediaman residen Hans Oliver Jannsen menjadi lautan darah. Seluruh anggota keluarga Jannsen, termasuk pembantu dan pelayan mereka, dibunuh oleh tentara Jepang yang menerobos masuk ke dalam. "Periksa semua rumah ini, pastikan tidak ada satu orang Belanda pun yang masih hidup" titah Hirohito kepada seluruh pasukannya. Walaupun Natasha tidak mengerti bahasa Jepang, namun ia menyadari bahwa mereka akan mengelilingi rumahnya dan memeriksa setiap ruangan yang ada. "Tidak, tidak, jangan, tidak boleh. Aku tidak mau mati" gumam gadis itu dalam hati sembari menutup mulutnya, berusaha keras menahan tangisnya. ___________________________________________________ Disclaimer: Tokoh dan jalan cerita hanyalah fiksi dan berasal dari imajinasi author semata. Pembaca diharapkan bijak dalam menyikapi.
Todos os Direitos Reservados
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Blood and Rose
  • Indurasmi Batavia [𝒂 𝒉𝒊𝒔𝒕𝒐𝒓𝒊𝒄𝒂𝒍 𝒇𝒊𝒄𝒕𝒊𝒐𝒏]
  • ᴛᴀʀᴀꜱ: ᴅɪ ᴀᴍʙᴀɴɢ ʙᴀᴛᴀꜱ ✔
  • LAVANYA
  • Gandakusuma
  • Ex-Fiance's Obsession {END}
  • MAHADEVA - A War Between Us
  • Little Monster

[SPIN OFF ARUNA SERIES] Seluruh koran dipenuhi pembunuhan brutal yang meneror Batavia, pembunuhan yang membuat repot Gubernur Jenderal Hindia-Belanda selama satu minggu penuh. Lantas? Persetan dengan semua berita itu! Apa peduliku jika para Belanda itu kerepotan? Malah bagus kalau mereka pontang-panting. Tapi bukankah korbannya rata-rata gadis dengan rentang usia antara tujuh belas hingga dua puluh satu tahun? Gusti! Umurku kan dua puluh tahun! Kenapa aku malah tenang-tenang saja begini? Aduh, di mana otakmu ini, Rini? Baiklah aku harus waspada mulai sekarang. Apa perlu bawa kenes setiap kali keluar? Tidak, Rini, itu sama sekali tidak seperti seorang putri keturunan priyayi, tapi apalah bedanya priyayi, wong cilik, dan para ningrat di hadapan ifrit berdarah dingin? Ah aku jadi teringat Romo. Apa Romo baik-baik saja di Batavia sana? Aduh, aku sedang melamunkan apa gerangan? Kenapa aku repot-repot memikirkan kota lain sedangkan di sini aku masih punya ibu yang harus diurus? Lalu Gusti, kalau boleh meminta petunjuk, tolong beri aku petunjuk siapa sebenarnya laki-laki edan yang mendadak nongol di rumahku tengah malam ini? Kenapa dia memakai baju seperti orang Belanda? Lantas nama aneh macam apa itu? Ah ya, siapa namanya kalau tidak salah? Oh ya, Zen. Nama aneh macam apa itu?

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo