We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
KAFKA
  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Aug 3, 2022
WpInfo
Fiction
Mystery
"Menari dalam lingkaran dan jatuh cinta, Bibir matahari dan lukisan neraka," Lagi-lagi aku melantur saat berbicara. Kafka berbaring di pangkuanku dengan mata tertutup, dia terlihat begitu damai. Beberapa detik berlalu, aku bisa mendengarnya menarik nafas panjang. Lalu ia melanjutkan ucapanku, "Sang manusia yang menjalani metamorfosa, Dengarkanlah kisah ia yang tidak pernah ada." Kebencian di dalam suaranya, iri hati di bawah helaan nafasnya, aku bisa mendengar segalanya. Kafka, apa yang membuatmu yakin kau manusia? ° ° ° ° ° [Sebenarnya Authornya juga pusing dia ngetik apaan]
All Rights Reserved
#58
original
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALZEA : FEATURED SOULS [END]
  • CATATAN HARIANKU
  • The Dark Side(END)
  • THE ANGVILS [ON GOING]
  • Penguasa Alam Ghaib
  • Who I am?
  • Miracle of Survival [END]
  • NOESIS [END]
  • Gentayangan di Kereta Terakhir
  • The Grey Of SAKARUNA

Algesa liar, berantakan, dan terlalu akrab dengan kehancuran. Zea cantik, tapi matanya menyimpan luka yang tak bisa dijelaskan. Orang-orang berkata hidup adalah soal pilihan. Tapi bagi Algesa Axeliano Ravanaugh, hidup hanyalah sisa napas dari keputusan orang lain. Ia tidak pernah meminta untuk dilahirkan, apalagi tumbuh besar di rumah yang dipenuhi darah, teriakan, dan kebohongan. Setiap langkah yang ia ambil adalah pelanggaran. Bocah pemberontak yang menantang dunia karena dunia lebih dulu menghancurkannya. Ia melawan. Melawan dunia yang telah merenggut Bundanya. Melawan ayah yang seharusnya sudah terkubur sejak lama. Malam itu, di jembatan tua yang dingin menusuk tulang, Algesa tidak mencari apa pun. Ia hanya ingin diam. Tapi justru di sana, dalam gelap yang lengang, ia menemukan sesuatu yang tak terduga, sepasang mata yang tak asing. Bukan karena ia mengenalnya. Tapi karena luka yang tersembunyi di balik sorotnya terasa terlalu akrab. Zea. Ia bukan gadis baru. Bukan pula gadis baik-baik. Tapi ada sesuatu dalam caranya berdiri, dalam diamnya yang membatu, yang membuat Algesa terus melangkah. Bukan karena ia cantik. Tapi karena ia rusak. Sama seperti dirinya. "Kenapa... lo nolongin gue?" tanyanya lirih, tubuhnya gemetar tak hanya karena dingin, tapi juga karena luka yang terlalu lama disimpan. Algesa menatapnya lama, diam tanpa ekspresi. Petir menyambar di kejauhan, memperjelas gurat tajam di wajahnya yang basah. Tapi kemudian sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai kecil, dingin, ambigu, tapi entah mengapa terasa jujur. "Mungkin karena gue suka ngerusak hal-hal yang hampir rusak." ALZEA : 05. April. 2025 By : Rossa Ig : @rossaroxie @_chaterinee

More details
WpActionLinkContent Guidelines