Idealnya sebuah rumah menjadi tempat berlindung di bawah hujan dan terik yang membakar kulit. Bisa menghangatkan juga menyejukkan. Tempat untuk tinggal yang penuh kenyamanan. Katanya setiap orang pasti punya rumah. Namun, rumah yang Nala tempati bukanlah seperti yang didefinisikan barusan. Nala hanya orang asing yang dipaksa untuk tinggal. Nala berusaha untuk mengubah rumah itu menjadi rumah sungguhan, tetapi ternyata tak mudah. Apakah Nala akan tetap tinggal di sana dan berhasil menjadikan rumah itu rumah sungguhan? Atau malah terusir dan terpaksa mencari rumah lain yang mau menerimanya?
More details