RINTIK-RINTIK HUJAN

RINTIK-RINTIK HUJAN

  • WpView
    Reads 918
  • WpVote
    Votes 68
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 18, 2023
Ratu benci Raja...... tapi Raja sayang Ratu.... MAAF satu kata yang setiap hari slalu keluar dari mulut Raja.Remaja pria yang berusaha mati-matian mendapatkan maaf dari seorang gadis keras kepala seperti Ratu. Ratu itu sebenarnya baik, pintar, rendah hati, tetapi entah kenapa sikapnya sekarang seratus delapan puluh derajat dari Ratu yang dulu. kebaikan dan ketulusan yang slalu Raja kasih itu semua tidak ada artinya dimata Ratu,Ego setinggi langit yang gadis itu miliki benar-benar membuat dirinya selalu tak berhenti-hentinya menghela nafas.Namun Raja percaya sekeras apapun batu,akan tembus bila terus menerus di tetesi oleh air,Raja berharap Ratu seperti itu.kenangan masa lalu yang mereka tutup rapat-rapat terbuka begitu saja.Raja selalu diliputi rasa bersalah hingga membuat hidupnya frustari dan tak tahu harus berbuat apa! kanflik diantara mereka semakin rumit.satu masalah selesai seribu masalah muncul,begitupun seterusnya.Mereka itu layaknya seperti Romeo dan Juliet di dunia nyata,yang seringkali dilingkari oleh masalah. Namun apakah bisa RINTIK-RINTIK HUJAN di antara mereka berhenti?atau justru sebaliknya RINTIK-RINTIK HUJAN di antara mereka akan tetap turun dan menjadi sebuah badai yang tak akan berlalu?
All Rights Reserved
#172
basmalah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Perihal Sandwich(End)
  • ketika senja menyapa
  • Winter
  • Rain(y) Rei (COMPLETED)
  • Rannia√
  • Bumblebee {Nohyuck} Going To Season 2

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines