Story cover for Perfect score by lopechoco
Perfect score
  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Aug 13, 2022
Kami melangkah dengan langkah tegap yang dipaksakan, menghadap ke seluruh kamera, menjadi pusat perhatian.

Kami muak berpura-pura diam atas kebusukan negeri ini, namun untuk mengungkapkan nya kami tidak berani. 

Sesungguhnya kami hanya remaja biasa yang sedang menimba ilmu untuk masa depan masing-masing dan entah bagaimana terjebak oleh sistem busuk yang dibuat oleh pemerintah diatas.

"KITA GA BISA DIGINIIN KITA HARUS NGELAWAN!!" Sean berteriak hingga mukanya memerah.

Betharia yang berada disampingnya langsung menahan Sean agar tidak kelewatan batas.

Keisha dengan mata berkaca-kaca mendorong tubuh Sean hingga Sean mundur beberapa langkah "Lo bisa paham ga sih? KITA DISINI BISA MATI BISA GA PUNYA MASA DEPAN, KITA JUGA PENGEN NGELAWAN TAPI KITA GA BISA SEANNNN!!"

"Sha udah, jangan kebawa emosi" lerai Kai yang membawa Keisha kepelukannya.

Sedang Jiwa hanya diam dan terduduk lemas karena sesungguhnya ia hanya ingin keluar dari ruang ini. Hingga pintu di dobrak dengan paksa dan..

"Bajingan mati kita" umpat Jiwa dengan lirih.
All Rights Reserved
Table of contents
Sign up to add Perfect score to your library and receive updates
or
#856goodboy
Content Guidelines
You may also like
ADIKARA ELUSIF by blackcurrantbery
49 parts Ongoing
Baca lapak sebelah dulu biar nyambung, baca DeKaNa🔥 "M-maksudnya apa?" Ekspresi wajah yang semula terlihat senang berganti menjadi rawut wajah yang amat tidak disukai, seolah perubahan mimik wajah mempengaruhi suasana hati sang pemilik Perlahan sudut bibirnya ketarik ke pinggir membentuk lekungan senyuman yang terlihat menyeramkan bagi remaja yang berdiri di hadapannya, bahkan bola matanya terlihat bergetar melihat apa yang tengah terjadi di hadapannya. "Hanya seminggu" Kakinya perlahan melangkah mendekati remaja yang sudah membeku di tempat itu, mengayunkan tangannya untuk mengusap puncak kepala yang lebih muda "Sayang sekali, Khai nggak panggil Ayah-" Plak Ia menatap tangannya kemudian menatap anak yang lebih muda di hadapannya dengan alis mata terangkat, berani, sangat berani "L-lo gila" "Lo bawa gue kemana hah anjing?" Ia memejamkan matanya, sudah seminggu ini hatinya berbunga-bunga, namun sekarang api neraka kembali membakar hatinya mendengar lontaran perkataan dari anak muda yang ada di hadapannya. Srett "Kenapa lo diam aja hah?, jawab!, lo bawa kemana gue hah?" Teriaknya dengan nafas tersenggal-senggal karena perasaan marah. Ia kembali tersenyum, mencoba mengusap puncak kepala itu namun tepisan kembali dirinya dapat, oke cukup, ia sudah sangat sabar kali ini, "Askar ternyata nggak guna" Perlahan kaki itu mendekati remaja itu, lalu mengusap paksa kepala itu dengan kuat, dan dalam sekali tarikan ia berhasil membuat tulang tengkorak itu bersentuhan kasar dengan dinding rumah kokoh miliknya "Lo manja banget ya Kai, semua harus gue yang turun tangan" Ucapnya sembari menyeringai melihat ekspresi wajah Kaivan yang terlihat kesakitan sekaligus marah karena tidak bisa melawan.Tubuh itu jatuh telentang di lantai, dan tanpa belas kasihnya, ia menaruh telapak kakinya di atas dada Kaivan yang seketika membuat anak itu meringis sakit karena tak mampu menahan rasa sakit lagi "A-abang" "Kalau udah kek gini, baru manis diliat" 19 April 25
Zenna Story by Senaaraini
37 parts Ongoing
Zenna Story Bertepuk sebelah tangan memang sakit, tapi apa lah daya ku jika dia memang bukan ditakdirkan untukku. Percuma saja jika dia hadir hanya untuk singgah bukan menetap. Aku bukan tempatnya pulang dan aku bukan rumahnya. **** "Tolong kasih aku kesempatan buat menebus semuanya selama ini" Ujarnya ditengah derasnya hujan. Gadis itu tak menjawabnya, ia tetap diam sambil menunduk. "Tolong jangan diam aja, jawab aku!" Ujarnya lagi. "Aku gak bisa, aku udah mati rasa!" Balasnya masih dengan menundukkan kepalanya. Air mata yang menetes tersamarkan oleh tetesan air hujan yang deras. "Jangan bilang gitu, aku bakal nungguin kamu sampai kapanpun itu!" "AKU UDAH MATI RASA ZEE! JANGAN GANGGU HIDUP AKU LAGI!" Sentaknya, dengan air mata yang membanjiri pipinya. "Nggak, kita bisa perbaiki hubungan kita pelan-pelan Sheina! "Maaf, kehadiran kamu dihidupku selama ini cukup menyakitkan buat aku Ze! "Jauhi aku, jangan ganggu aku lagi, aku pamit pergi!" "Hikss.. hiks.. hikss.." kakinya ambruk begitu saja ia sudah lemas, tidak tahu harus melakukan apa lagi. Gadis yang selama ini mengaguminya diam-diam kini telah pergi meninggalkannya. Satu kesalahan berujung fatal, ia tidak pernah menyadari ada seseorang yang begitu tulus mencintai dan menyayanginya, namun selalu ia sia-siakan dan tak pernah ia perhatikan. Hingga saat ia menyadari perasaannya, ternyata gadis ini malah sudah tidak memiliki rasa untuknya. Sakit. **** ~ Jika memang memendam rasa kepadamu begitu sulit dan menyakitkan, tapi mengapa hatiku enggan tuk menyerah saat ini ~ **** Teman-temannya bisa mulai membaca lagi ya, Kelanjutan dari kisah Sheino sudah up kembali yang pasti akan semakin seru cerita kedepannya. Up setiap hari Kamis ya! Ada perubahan judul ya gais! Jangan lupa follow akun ini dan Share cerita ini!
You may also like
Slide 1 of 7
Hingga Rasa Itu Pulih cover
My Posesif Brothers cover
DeKaNa (END) cover
ADIKARA ELUSIF cover
Zenna Story cover
Edgar : Between Chaos and You  cover
FADING IN YOUR ARM [YEOJONG] cover

Hingga Rasa Itu Pulih

13 parts Ongoing

"Aku cuma pengen hidup tenang tanpa diingatkan terus sama dosa yang bahkan udah kucoba tebus." -Seila "Gak semua orang bisa kamu percaya, apalagi perempuan." -Lionel Seila adalah gadis yang pernah hancur karena kesalahannya sendiri. Saat SMP, ia kehilangan banyak hal, termasuk harga dirinya-akibat rasa percaya yang salah. Dikhianati sahabat, ditinggal cowok yang belum sempat bilang putus, Seila memilih pergi dan mengasingkan diri di pesantren selama sepuluh tahun. Pulang dengan hati yang lebih tenang dan iman yang dijaga, Seila tak pernah menyangka akan bertemu Lionel-pemilik pondok yang dingin, kaku, dan dikenal tak suka perempuan. Tapi justru dari sikap cueknya itulah, Seila merasa aman. Pelan-pelan, mereka membuka ruang untuk saling percaya. Hingga saat ta'aruf mereka nyaris menuju keseriusan, Bagas datang. Membawa masa lalu yang belum tuntas. Membawa luka yang belum sepenuhnya sembuh. Dan mencoba menggoyahkan pondasi yang baru saja dibangun Seila dan Lionel. Di antara masa lalu yang menghantui dan masa depan yang menanti, mampukah Seila memilih cinta yang benar?