"Tidak semua perpisahan terjadi karena seseorang memilih pergi. Ada yang dipisahkan oleh hujan, laut, dan surat yang tak pernah sampai."
- Muson Barat, 1990
Di Pesisir Indah, setiap datangnya Muson Barat selalu ada satu kebiasaan yang tak pernah berubah, hujan turun berhari-hari, laut menjadi gelap, dan orang-orang memilih mengunci rapat masa lalu mereka. Mereka percaya setiap musim hujan selalu membawa sesuatu kembali. Kadang perahu yang hilang. Kadang kenangan yang seharusnya sudah tenggelam. Dan kadang... nama yang selama puluhan tahun tak boleh lagi disebut.
Nareswari Samudra tumbuh di rumah yang penuh aturan, tetapi juga miskin jawaban. Jangan menyentuh masa lalu, jangan bertanya tentang hujan, dan jangan pernah mendekati keluarga Adiwangsa. Yang paling tidak pernah ia mengerti hanyalah satu hal, kenapa ibunya begitu membenci musim hujan... dan juga seolah membenci dirinya.
Sampai sebuah peti kayu tua ditemukan di gudang kantor pos peninggalan keluarganya. Di dalamnya ada dua puluh surat yang tak pernah sampai kepada pemiliknya. Semakin banyak surat yang Nara antarkan, semakin sering ia merasa surat-surat itu tidak sedang mencari alamat... melainkan sedang mencari dirinya.
Lalu Arka Banyu Adiwangsa kembali muncul, lelaki yang pernah menjadi bagian dari masa kecilnya, lelaki yang namanya selalu membuat ibunya kehilangan warna di wajahnya.
Di antara hujan yang tak kunjung reda, laut yang seolah menyimpan terlalu banyak rahasia, dan surat-surat yang perlahan menemukan pemiliknya, Nara mulai menyadari satu hal. Mungkin ada alasan mengapa beberapa surat tidak pernah dikirimkan. Karena tidak semua kebenaran datang untuk menyembuhkan. Ada yang datang tepat ketika semuanya sudah terlambat.
Dan ketika surat terakhir akhirnya terbuka, Nara harus memilih, mengembalikan sebuah kebenaran kepada pemiliknya... atau membiarkan satu tahun bernama 1990 tetap terkubur bersama hujan.
Muson Barat, 1990-
All Rights Reserved