"Aku ingin Phi Dew tahu rasanya jadi aku," lanjut Tee, kali ini dengan penekanan di setiap kata. "Atau setidaknya... aku ingin berhenti merasakan sakit ini. Aku ingin dia mengerti betapa sepinya berada di posisiku." Tanpa sadar, Tee membacakan satu kalimat mantra di bagian bawah halaman tersebut yang berbunyi tentang "tiga monyet bijak". Suaranya lirih namun bergema aneh di ruangan yang sunyi itu. Angin di luar menderu kencang, menggoyangkan jendela kamar tamu hingga bergetar pelan. Tee tidak menyadari adanya perubahan atmosfer di ruangan itu. Ia hanya merasa matanya semakin berat karena lelah menangis seharian. Rasa kantuk yang luar biasa tiba-tiba menyerangnya, seolah menarik kesadarannya paksa menuju kegelapan. Ia meletakkan buku itu di meja nakas, tepat di samping lampu kelinci yang bersinar temaram. Tee membaringkan tubuhnya di samping Aom, memeluk guling dengan erat seolah mencari pegangan. Perlahan, napasnya mulai teratur, dan ia pun terlelap membawa luka hatinya ke alam mimpi.
More details