DANCE IN FANTASY

DANCE IN FANTASY

  • WpView
    Reads 61
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureComplete Sat, Aug 27, 2022
Namaku Rianti Seravonia, aku terlahir dari keluarga yang berkecukupan, aku adalah anak tunggal dari perusahaan kaya raya yang bekerja di bidang tambang, ibuku sudah meninggal sejak aku kecil akibat melahirkanku. Aku tinggal dirumah yang cukup besar bersama Bibi Ina yang bekerja sebagai asisten rumah tangga dan Pak Yanto yang bekerja sebagai tukang kebun sekaligus supir pribadi. Mereka berdua bekerja dan tinggal dirumahku. Namun sesekali ayahku pulang menemuiku bersama istri mudanya atau hanya memberi kabar lewat telephone. Ketika aku sedang bosan berada di dalam rumah. Aku selalu mengisi waktu kosongku dengan membuka laptop dan membuka situs aplikasi Toutube, disana semua video tarian balet yang aku cari ada. Rianti memiliki penyakit gangguan Halusinasi serta gangguan Demensia Alzheimer (pikun), apapun yang Wulan lakukan yang membuat Rianti sakit, Rianti tidak akan ingat apapun. Wulan mengetahui penyakit Rianti sejak Rianti suka berhalusinasi, Rianti sangat sulit membedakan mana khayalan dan mana kenyataan serta pikunnya yang sudah tak tertolong lagi bagi Wulan, apapun yang Wulan ceritakan besok pagi atau malamnya Rianti tidak akan mengingat apapun kecuali di ingatkan, Ketika ia berbicara lewat telephone, Rianti suka mencatat hal-hal penting apa saja yang baru di ceritakan lewat telpon tersebut bersama Wulan atau ayahnya, sejak saat itulah Wulan memanfaatkan Rianti. Karena Rianti tidak memiliki kerabat atau keluarga dekat, Rianti pun tidak diobati, ayah atau ibu tirinya sangat tidak peduli terhadapnya, yang ayah Rianti tau hanya diberi uang bulanan saja dan anaknya sehat secara fisik. Setelah Wulan memanfaatkan uang Rianti dan merasa uang itu tidak cukup, ia memanfaatkan tubuh Rianti dengan bayaran yang lebih tinggi untuk mendapatkan lebih banyak uang dan pergi meninggalkan Rianti keluar Negeri bersama Abi calon suaminya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jejak wasiat kakakku
  • Broken
  • Halilintar dan Solar [TAHAP REVISI]✔️
  • Little Sister [Boboiboy Elemental]
  • Pelangi Setelah Hujan ✖ IDR
  • Tangis Terakhir (Tak Ada Lagi Lara Karena Cinta)
  • Sahabat Terbaik
  • HER SHADOW
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • TIRANI

Namaku Alya. Dan aku tidak pernah menyangka bahwa langkah kakiku suatu hari akan menggantikan jejak perempuan paling kuat yang pernah aku kenal: kakakku, Alisa. Sudah hampir setahun aku tinggal di rumah besar bercat abu muda itu, rumah yang dulunya hanya aku singgahi saat libur semester atau ketika merindukan masakan kakakku. Tapi sejak Alisa divonis kanker paru-paru stadium lanjut, rumah itu menjadi dunia baruku. Aku memilih cuti kuliah, meninggalkan kosan kecilku di Jogja, dan kembali ke kota ini-demi merawatnya. Aku masih ingat hari ketika pertama kali datang kembali ke rumah itu. Anak-anak Alisa, Rani dan Dafa, langsung berlari memelukku. Rani sudah kelas dua SD, dan Dafa masih TK. Mereka belum tahu betapa besar badai yang sedang menunggu kami semua. Dan di tengah rumah itu, ada sosok pria yang paling jarang bicara: Rayhan. Suami Alisa. Kakak iparku. Ia selalu tenang. Terlalu tenang, bahkan saat Alisa harus masuk rumah sakit untuk ketiga kalinya bulan itu. Ekspresinya nyaris tidak berubah-datar, kaku, dan kadang membuatku bertanya-tanya apakah ia benar-benar mencintai kakakku atau hanya hidup berdampingan karena kebiasaan. "Mas Rayhan, teh hangatnya," kataku malam itu, sambil meletakkan cangkir di meja. Ia hanya menoleh sekilas. "Makasih." Lalu kembali tenggelam di balik layar laptopnya. Begitulah Rayhan. Ia tidak pernah kasar, tidak pernah marah, tidak pernah meninggikan suara. Tapi juga tidak pernah benar-benar hadir. Ia adalah tipe laki-laki yang, entah kenapa, membuat dada terasa sesak hanya karena terlalu hening. Sementara itu, kondisi Alisa kian memburuk. Berat badannya turun drastis, rambutnya mulai rontok karena kemoterapi, dan batuknya sering berdarah. Tapi ia tetap tersenyum. Tetap berusaha mencatat tugas-tugas sekolah Rani, tetap memeluk Dafa sebelum tidur. Suatu malam, saat aku menemaninya di kamar, Alisa mem

More details
WpActionLinkContent Guidelines