Nada Minor Ekal

Nada Minor Ekal

  • WpView
    Reads 25
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 12, 2022
Dulu sekali, Ekal pernah mencaci maki dan tak menerima bagaimana dunia bekerja. Ekal pernah merasa kecewa, Ekal pernah merasa marah, Ekal pernah merasa lelah. Mengeluh sepanjang waktu dan selalu membenci hari esok adalah kebiasaannya. Muak jika dirinya sekali lagi terpuruk atas kehidupannya yang tak sempurna di mata orang banyak. Terlahir sebagai seorang anak tunggal yang di penuhi sepi. Merasa segalanya tak adil karena dirinya hidup dalam keluarga berkekurangan. Bangun dan tidur disambut kumuhnya udara. Tak seperti salah satu bocah sebayanya dengan keluarga super jaya yang ia dambakan. Tapi sekarang, dirinya berubah. Ekal tak lagi mau mengenali dirinya di masa lalu. Seorang Hekal Prasadi yang masih gemar menangis keras di usia 13 tahun karena tak mendapatkan sepeser uang pecahan sepuluh ribu. Bocah dengan hati buruk dan keras kepala yang membuatnya tak lagi sudi untuk mengenang masa kecilnya. Semuanya sudah tak lagi sama sejak Ekal beranjak dewasa. Sebuah kenyataan pahit, takdir yang nyaris membuatnya gila setengah mati, hingga cobaan berat yang selalu menderanya tanpa henti. Seiring berjalannya waktu, Ekal semakin mengerti perihal jalan hidupnya sendiri. Walau sulit, ia tak akan bisa berlari menghindari garis takdir. "Bapak, doakan Ekal bisa dapet kerja." "Biar Ekal bisa bawa Bapak sama Ibu keliling dunia sepuasnya." Hingga akhirnya, Ekal berani bersumpah jika hidup dan matinya telah ia serahkan sepenuhnya pada tangan Ibu dan Bapak. ©indahcahya
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • The Gihandaroe's
  • Luka Naren.
  • Kue Manis & Rasa Pahit | Hyuckna
  • A Life That Turns
  • Perihal Sandwich(End)
  • Jovanka dan Abang Kembar
  • HAIDEN

"Aku yang bakal bawa Dhega." "Kamu gila, Bayu? Kamu gak mikirin anak-anak? "Aku atau kamu yang gila? Aku atau kamu yang nggak mikirin anak-anak?" Sedari ia kecil sang ibu selalu memarahinya dengan alasan jika ia harus berguna dan tidak merepotkan orang lain. Ibunya yang selalu meremehkan hal-hal kecil yang ia lakukan, ibunya yang selalu mementingkan dan mengutamakan sang anak pertama. Dunianya kala itu harusnya hanya tentang bermain, malah ikut andil dalam permasalahan orang dewasa. Dan naasnya, ia harus melihat kedua orang tuanya yang memilih untuk berpisah. membuat dirinya harus ikut dengan sang ayah. Semesta Radhega yang tidak ingin melulu menjadi akhir, ia juga ingin menjadi yang utama, yang selalu diprioritaskan ibunya. "Begitu sulit menyuarakan luka, saat mereka terus-menerus mendesakmu untuk sempurna."

More details
WpActionLinkContent Guidelines