Shoot & cut : Bab3 (Rahasia Rival)

Shoot & cut : Bab3 (Rahasia Rival)

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Aug 27, 2022
Tak lama ketika ia beranjak dari duduknya, sebuah suara keluar dari mulut bos nya itu. "Mau kemana kamu?" Akhirnya Rival tersadar sambil menarik tangan Helena yang akan beranjak pergi. Ternyata teriakan Helena manjur juga dikupingnya Rival." Kamu mau kabur ya?" tambahnya. " yee siapa yang mau kabur, bapak gak denger tadi. Saya mau ambil air buat..." Helena langsung menutup mulutnya, lagi lagi hampir saja keceplosan "ekhem... beli minum maksudnya sama roti" "Iya saya denger kok apa yang kamu omongin.mana berisik lagi kuping saya hampir sakit." Sanggah Rival mencoba mengolok Helena. 'heuh ni orang minta ditabok apa.udah ditolongin juga.' Helena memandangi Rival dengan tatapan sinis seperti akan keluar laser dari matanya yang sipit itu.
All Rights Reserved
#141
komediromantis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Misi Kalisa (End)
  • Nona Gandari (Terbit)
  • TERJERAT CINTA TUAN POSESIF (TAMAT)
  • TOUCHED (End)
  • Antara Cinta Dan Nafsu #naskahgrassmedia2019
  • Memories De La Mafia
  • The Perfect Strangers
  • Kamu

"Ngapain lo!" Suara seseorang menyadarkanku, membuatku berbalik lalu menatapnya intens. Cowok belagu lagi. "Menurut lo, gue ngapain disini?" Ucapku setelah satu detik mencoba setenang mungkin. Dia menatap langit langit perpustakaan. Lalu menatapku kembali. "Lo ngadem kan," ucapnya dingin. Dia bukan bertanya, lebih tepatnya nuduh. "Sotoy banget lo!" Ucapku ketus tapi masih kategori pelan. "Aneh aja. Cewek kaya lo meluangkan waktu di perpus, apalagi sekarang nyari buku di rak matematika," ucapnya datar. "Emang kenapa?" Sahutku mulai kebawa emosi. Dia tersenyum miring. "Nggak pantes!" Ucapnya sambil mengeja. Lalu meninggalkanku dengan tersenyum devil. "Kenzo," panggilku berhasil membuatnya menoleh. Risih banget pertama kali manggil namanya. "Keren doang ya muka lo, tapi mulut lo busuk!" Mampus lo! Sakit hati sakit hati lo. Bodo amat dah. "Jadi gue keren?" "What?" Aku shock mendengarnya. "Thanks ya," ucapnya tersenyum sekilas sebelum benar benar meninggalkanku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines