Jalan Pulang

Jalan Pulang

  • WpView
    Reads 28
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 9, 2024
Apa yang lebih buruk daripada perpisahan dan penyesalan? Tidak ada. Karena Camelia sudah mengecap dua-duanya. Setiap kali ia menarik selimut, malam hari tak pernah terasa seindah dulu. Mau tak mau, takdir harus memutus cerita ia bersama Ibunya. Lamunan dosa terasa lebih berat daripada kantuknya, pipinya selalu nampak mengkilap dan basah sekalipun cahaya kamarnya selalu meredup di malam hari. Ketika tuntutan untuk menjadi manusia paling sempurna dijatuhkan ke tangan Hafiz, ia tak berkutik sekalipun ada seribu jalan yang menantangnya untuk pergi tanpa menghiraukan siapapun. Tapi ia sadar, sang ibu telah bertahan hidup puluhan tahun untuk menjadi tameng bagi Hafiz dari hujaman penghakiman sang Kakek terhadap keluarganya. Camelia harus tahu, bahwa di bukit semanggi sana terkubur sebuah kebahagiaan meski hanya ada hamparan rumput hijau yang tak ada gunanya. Mungkin Hafiz memang benar, bukan itu alasan semesta membui mereka di sana. Camelia hanya perlu tahu, cinta akan tetap hidup sekalipun sang Ibu tak ada di sisinya. Dan kebebasan tak akan mati meskipun sesuatu telah membunuh langkah Hafiz di masa remajanya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sweet Time
  • Amami
  • 7 Seconds
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Secangkir Tawa, Sebotol Air Mata
  • Being a Good Papa [ End ]
  • Sekeping Hati yang Terluka
  • Flutterby (Terbit)
  • Time Loop
  • The darkest side of rain

Jangan mati dulu, kamu belum bahagia! ... "Sebelum kembali pada-Nya, kamu harus memiliki kenangan manis, untuk membuatmu tetap tersenyum saat meninggalkan dunia," Kalimat itu yang membuat Asakilla bertahan, di tengah kejamnya dunia yang tidak sedikitpun mengasihani dirinya. Jiwanya sudah mati, bahagianya diambil satu per satu. Dia kehilangan ibu di usia 3 tahun. Hanya ada Kakek yang selalu menyayanginya lebih dari orang tuanya sendiri. Tapi semesta tanpa rasa iba mengambil semua orang yang sayang pada Asa. Lantas kenangan manis apa yang patut Asa kenang diakhir hidupnya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines