The Butterfly's Deadly Wing

The Butterfly's Deadly Wing

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 25, 2025
Pernahkan kalian mendengar sebuah pepatah... Mutiara jikalau terjatuh ke dalam lumpur, maka nilainya akan tetap sama. Maka seperti itulah diriku yang bodoh ini. Aku ( Zahra) membuang sesuatu hal yang paling berharga di hidupku dan ialah orang yang selalu ada di dekatku, demi seorang pria jalang yang menginginkan hartaku saja (Frans). Bayangkan saja, aku jadi wanita paling biadab, bahkan bisa jadi wanita hina, hanya demi cinta butaku padanya. Bahkan yang lebih parah lagi, aku melakukan sesuatu hal yang sama sekali tak pantas untuk dilakukan oleh manusia yang punya hati. Jujur, aku malu dengan diriku sendiri. Bahkan, aku malu apabila bertemu Samudera. Namun, kenapa hatiku hancur ketika ia bahagia bersama orang lain, dan tertawa bersama beberapa gadis itu? Kenapa aku cemburu, disaat ada seseorang yang ingin PDKT dengannya, atau bermesraan dengannya? Padahal, akulah yang membuangnya dan ingin melepaskan diri darinya? Apakah aku jatuh cinta dengannya? Dan apakah kisah cintaku akan berlanjut bahagia? Ataukah ini hanyalah cinta dalam hati, seperti yang ia lakukan padaku dulu?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 3726 Rinjani Bersamamu
  • aku atau dia? || Fenly Un1ty ||
  • the best choice
  • Merried By Accident (END)
  • Cahaya Langit Abu Abu  ✓
  • Tentang Rasa [ COMPLETED ]
  • Mencintai Dalam Diam
  • Perjalanan Kisah Cinta Afia
  • HE IS MY MINE!

Aku terdiam melihat kutukan dijaman ini, aku melirik kanan kiriku dengan ujung kelopak mataku. "Argh.. Kenapa semua orang bisa melakukan hal sebodoh ini" gerutuku dalam hati. "Aku paling tidak bisa melihat hal-hal bodoh seperti yang mereka lakukan" lanjutku. Aku tersadar dalam lamunanku karena tepukan dibahuku. Aku mengenal tepukan itu, "Zahra" panggilnya, suara itu benar-benar lembut dan mampu membuat semua beban dan pikiran terformat begitu saja. Aku memalingkan wajahku tepat dihadapan wajah tampannya. "Sudahlah, tak semua orang sepertimu. Mereka mempunyai jalan pribadinya sendiri, tak usah kau pikirkan itu." Aku mengangguk dan beranjak dari bangku taman favoritku itu. Entah kenapa dia selalu bisa menenangkanku dalam keadaan apapun itu. Ia merangkulku dalam pelukannya, aku dapat merasakan kehangatan dan ketulusan dari pelukannya itu. Namaku Ananda Putri Zahra, orang biasa memanggilku zahra. Entah kenapa aku lebih suka dan ingin dipanggil Rinjani.

More details
WpActionLinkContent Guidelines