Salvatore

Salvatore

  • WpView
    Membaca 11
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Sep 10, 2022
Anangkara Bian, remaja laki-laki yang dahulu pergi menggunakan kemeja putih abu-abu dan kembali dengan snelli putih itu tampak semakin rupawan dengan Aura dewasanya. Tidak ada yang meragukan keahliannya dalam bidang bedah, tetapi siapa sangka dibalik kepiawannya dalam meliukkan pisau dan jarum medis, takdir tetap berhasil memainkan perannya. Meski namaku Daya, aku tetap tidak berdaya saat melihat tampilannya ketika kita kembali bersua. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa bermain-main dengan takdir. Terlebih pertolongan yang Bian minta terasa getir untuk kulakukan. Apa yang harus aku buka ketika aku tidak tau apa-apa selain namanya? "Daya," panggilnya penuh getar malam itu, "t-tolong aku. Sakit." Apa aku bisa? Mulai : 100922
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#122
hantu
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Dalam Diam | Hiatus
  • PERGI
  • Stad Batavia
  • I Love My Little Sister
  • Jurnal Dokter Muda
  • Another Soul (Transmigrasi) [END]
  • KARTANANTARIKA√REVISI

Dalam Diam Ia tumbuh dalam dunia yang tenang tapi penuh celah. Seorang gadis yang dibesarkan oleh ibu tunggal, di antara kasih yang tulus dan kisah yang setengah jadi. Ibunya tak pernah marah, tapi juga tak pernah benar-benar bercerita. Tentang masa lalu, tentang ayahnya, tentang rumah yang seharusnya jadi tempat kembali-semua hanya hadir dalam potongan-potongan kabur yang tak pernah lengkap. Hidupnya berjalan seperti itu, penuh tanya yang tak lagi ia kejar jawabannya. Sampai suatu hari, dunia yang ia kenal mulai bergeser. Sebuah surat undangan membawa namanya ke ajang Olimpiade Sains Internasional. Pemeriksaan kesehatan hanyalah prosedur awal-begitu ia kira. Namun rumah sakit tempat pemeriksaan itu justru menjadi simpul dari benang-benang yang selama ini kusut dalam kepalanya. Nama 'Diranata' menampar ingatannya, menghidupkan kembali bisikan-bisikan yang dulu sering didengar namun tak pernah dimengerti. Dan di antara lorong putih dan suara monitor medis, ia bertemu Gracia. Seorang dokter muda yang baik dan tenang, namun tak tahu bahwa yang sedang duduk di hadapannya mungkin adalah kakaknya sendiri. Ia mengenali wajah itu. Bukan dari ingatan, tapi dari foto lama-foto yang selama ini disimpannya tanpa tahu maknanya. Foto mamanya, memeluk seorang anak kecil yang bukan dirinya. Kini ia tahu, siapa gadis kecil itu. Tapi tetap memilih diam. Diam, karena belum waktunya bertanya. Diam, karena kadang kenyataan lebih menakutkan dari dugaan. Dan diam, karena hatinya belum siap menerima apa yang mungkin telah lama ia tunggu. Langkahnya pelan, tapi pasti. Satu demi satu, rahasia yang terkubur mulai muncul ke permukaan. Bukan dengan dramatisasi, tapi lewat tatapan, pertemuan singkat, dan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Ini bukan hanya tentang siapa dirinya, tapi juga tentang apa artinya memiliki rumah-dan kehilangan rumah itu tanpa tahu kapan. Dalam diam, ia belajar memahami. Dalam diam, ia memilih bertahan. Dan dalam diam pula, ia akhirnya berani mencari pulang.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan