Salvatore

Salvatore

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Sep 10, 2022
WpInfo
Fanfic
Anangkara Bian, remaja laki-laki yang dahulu pergi menggunakan kemeja putih abu-abu dan kembali dengan snelli putih itu tampak semakin rupawan dengan Aura dewasanya. Tidak ada yang meragukan keahliannya dalam bidang bedah, tetapi siapa sangka dibalik kepiawannya dalam meliukkan pisau dan jarum medis, takdir tetap berhasil memainkan perannya. Meski namaku Daya, aku tetap tidak berdaya saat melihat tampilannya ketika kita kembali bersua. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa bermain-main dengan takdir. Terlebih pertolongan yang Bian minta terasa getir untuk kulakukan. Apa yang harus aku buka ketika aku tidak tau apa-apa selain namanya? "Daya," panggilnya penuh getar malam itu, "t-tolong aku. Sakit." Apa aku bisa? Mulai : 100922
All Rights Reserved
#335
fanfiksi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berburu Kijang 1/2
  • Stad Batavia
  • TRANSMIGRASI ICE GIRL [END]
  • Jurnal Dokter Muda
  • KOMA || Un1ty
  • Another Soul (Transmigrasi) [END]
  • Diamnya Si Biru

Premis: Sepasang remaja pemuda Funkei bersama gadis Onna tiba di gedung sekolah dengan persenjataan senapan api lengkap yang bertujuan membasmi Kijang, lalu disambut oleh seorang pelayan wanita Mocca melalui ranah rekaan. Keduanya sempat ragu dengan sambutan Mocca, tetapi pada akhirnya mereka sepakat menerimanya, selanjutnya Funkei, Onna, dan Mocca lanjut keliling kompleks gedung hingga bertemu dengan Kijang yang mereka cari di lantai teratas, tetapi berakhir gagal lantaran kehabisan waktu. Uraian (blurb): "Perkenalkan, saya adalah Mocca, penyambut tangan terbuka engkau sekalian. Terima kasih sudah bersedia memasuki gerbang buatan saya." "Apa alasanmu menolong kami?" Funkei bertanya seakan-akan menuduh. "Jangan mengira kami akan telan bantuan kau begitu saja. Pasti kau mengharapkan sesuatu dari kami sebagai imbalan penyelamatan." "Sejujurnya, saya tidak mengharapkan apa pun selain ucapan terima kasih engkau. Namun ..., berkenankah engkau sekalian mengajak saya sebagai Pembantu?" "... Dapatkah kau membela diri kau sendiri?" "Hmm. Apakah boleh kalau saya sembunyi saja-?" "Mocca, kami enggak peduli bila aku dan rekanku terjebak selamanya di sini. Tujuan akhir kami hanyalah satu, yaitu melenyapkan Kijang, dan aku berfirasat besar bahwa kaulah Kijang yang sedang kami buru." "Sungguh, jadi engkau lebih memilih terjebak selamanya saja?" ancam Mocca mengeritkan rahang, kesal sejadi-jadinya. "Yakinkan kami dahulu bahwa kau bukanlah ancaman nyata yang berniat jahat menusuk kami dari belakang," titah Onna tegas keras. "Tanpa perlu kaubilang pun, aku tahu betul bahwa kau dapat melenyapkan kami semudah jentikan jari." Terlepas dari keengganan Funkei dan Onna, keduanya sepakat untuk mengajak Mocca berburu Kijang. Namun, perburuan mereka selanjutnya malah berbalik menjadi diburu oleh Kijang, hingga terpaksa dipulangkan ketika mentari mulai terbit.

More details
WpActionLinkContent Guidelines