Hujan Tanpa Suara

Hujan Tanpa Suara

  • WpView
    Reads 33
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadComplete Wed, Oct 5, 2022
aku hanya hujan yang kehilangan cahaya, aku hanya ingin di perhatikan dan di perlakukan adil hanya sekali saja, tapi takdir seolah tidak mengijinkan ku untuk bahagia Kalian selalu berkata "bentar ya, sayang mama mau nemenin kila dulu" "bentar ya, papa mau bacain dongeng Kila dulu" "bentar ya, abang mau nemenin kila main" "bentar ya, mau beliin Kila ice krim dulu" tanpa kalian sadari aku sudah terbiasa tanpa kalian kegelapan adalah sahabatku- cila argantea dan ini tentang kenta yang berstatus sebagai pacar cila yang berselingkuh dengan adiknya sendiri dia selalu berkata "liat tuh adek kamu baik, cantik, penurut, penyayang gak kaya kamu banyak ngomong bikin aku jengah" selalu saja Kila Kila dan kila aku kapan?? Kalian mau tau apa yang terjadi pada cila?? Next selengkapnya EH INI REAL PEMIKIRAN AUTHOR YA KALO ADA PERSAMAAN SAMA CERITA LAIN MUNGKIN HANYA KEBETULAN.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
  • Savero Archandra || Haechan || END
  • WHO ?
  • Be with you
  • Sahabat Jadi Cinta [ENDING]
  • ZENARZEL [SELESAI✔]
  • All My Fault✔
  • Albel
  • Bagaimana hari ini? (END)
  • ALEYA~~

"siapapun tante, adik ayah, adik bunda, tetangga atau simpanan ayah, aku anggap tante cuma benalu tau" ucapku memberi penekanan pada kata simpanan. Wajah Tante Dista terlihat terkejut. "heiii.."ia membentakku "ga pernah di didik ya sama bunda mu, ternyata bundamu itu ga becus jadi seorang ibu ya pantas saja ayahmu tergila gila pada ku" "kamu ga usah senang dulu, suatu saat nanti aku yang akan mengusirmu dengan tanganku sendiri" sambungnya Aku menyeringai "barusan kau buat pengakuan kan" tanyaku menatapnya jijik. Tante Dista terlihat kikuk. "hahaa..... Jadi kau memang simpanan ayah. Dan masih sanggup tinggal dirumah kami. Ga tahu malu"ucapku dengan penekanan di kata simpanan dan malu. "kauuu-"ucapnya tertahan ketika bunda mulai mendekati kami. Aku mendekat ke arah tante Dista tetap mempertahankan senyum palsuku. Menginjak kakinya dengan keras, dan pura pura mencium pipinya dengan mesra. Dia menjerit tertahan dan aku senang. Tanganku yang bebas menarik rambutnya yang terjuntai panjang. Dia meringis dan mencengkram tanganku kuat kuat. Bunda tak pernah tau itu. Bunda hanya tersenyum dan menganggap semuanya akan baik baik saja. Padahal aku dan tante Dista sedang menyiapkan strategi perang kami masing masing.

More details
WpActionLinkContent Guidelines