Shoot & Cut : Bab 4 ( Perasaan Helena)

Shoot & Cut : Bab 4 ( Perasaan Helena)

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 11, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
"woy kerja mulu lu, cepat kaya entar " Rizki meneriaki Lena dengan lantang. "biarin biar nyaingin luu, " gak sungkan Lena pun membalas guyonan Rizki. Rival memerhatikan mereka dari kejauhan. Dia yang tadinya mau manggil Lena, ia urungkan karena Rizki. Rival pun kembali bekerja . "sini sini deh gue perhatiin ada yang aneh antara kalian berdua sejak balik kesini tadi, ada apaan sih?" Rizki mencoba memberanikan bertenya pada Lena. "ehm biasa aja deh, perasaan lu doang kali." Lena menyela dengan cepat sambil membereskan kertas-kertas yang berserakan di meja kerjanya. " hmmm bentar mungkin gak sih kalian ketangkap ciuman di rumah sakit sama Pak mansyur atau Bu Siska?" Rizki memasang raut wajah penasaran dengan mata menyolok. "PLAKKK..." tamparan keras Helena mendarat di pundak kiri Rizki. " sialan lo yang benar saja."
All Rights Reserved
#981
komediromantis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Suddenly Marriage
  • Bucin Ala Al [END]
  • Hening Dalam Luka
  • Cinta Yg Tumbuh Lewat Rahasia
  • Crazy Marriage
  • Memorable Night #N1 ( LENGKAP )
  • Two Wedding
  • SHADOW ( Selesai)
  • Boom Boom Heart

"Mi, kemarin Pak Kades dan istrinya datang ke rumah. Dia ingin meminang kamu untuk menjadi istri anaknya," ucap Mama yang membuatku seketika langsung menghentikan kunyahan. "Mama kalau bercanda jangan pas lagi makan dong, nggak lucu kalau tiba-tiba aku tersedak terus meninggal," ucapku sambil tertawa. "Mama serius." Aku langsung melihat wajah mamaku, dari matanya aku bisa melihat keseriusan. Mendadak aku jadi merinding. "Jangan bercanda mulu dong, Ma, mana mungkin Pak Kades tiba-tiba melamar aku buat anaknya. Lagian aku nggak kenal sama anaknya Pak Kades," ucapku masih menyangkal kalau yang mamaku katakan bukanlah candaan. "Mama nggak lagi bercanda, Mi, Mama serius." Tenggorokanku serasa tercekat ketika mendengar perkataan Mama, "Ma, jadi ini serius?" Mama mengangguk dan itu membuat tubuhku seketika melemas. "Apa ini alasan Mama minta aku cepat-cepat pulang?" tanyaku yang dibalas anggukan oleh Mama. "Terus Mama jawab apa? Mama nolak 'kan?" tanyaku mulai was-was. "Ayah kamu sudah menerima, katanya nggak enak menolak tawaran Pak Kades. Kapan lagi 'kan kita bisa besanan sama orang terpandang?" Rahangku hampir saja lepas dari tempatnya saat mendengar jawaban Mama. "Nanti malam Pak Kades datang lagi ke sini sekalian bawa anaknya, mereka mau melamar kamu secara resmi." Aku semakin gila setelah mendengar sambungan perkataan Mama.

More details
WpActionLinkContent Guidelines