Bunga Terakhir

Bunga Terakhir

  • WpView
    LECTURAS 18
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 3
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, sep 13, 2022
Pantai memang menyenangkan. Suara ombak dan anginnya menenangkan pikiran. Tapi, mengapa harus dia yang kau tenggelamkan? Seorang gadis cantik berdarah Sulawesi, tepatnya Palu, Sulawesi Tengah berusia 22 tahun bernama Aisyah yang diam-diam mendambakan sosok Ari, seorang lelaki tampan yang terpaut usia 2 tahun lebih tua darinya. Cerita ini dimulai saat mereka duduk di bangku SMA. Aisyah remaja adalah orang yang pemalu dan sedikit pendiam. Berbeda dengan teman-teman sebayanya yang suka menggibah dan mulai 'coba-coba' dekat dengan lawan jenis, Ia bicara seperlunya dan cenderung pemalu. Sedangkan Ari adalah orang yang memiliki banyak teman, seorang yang aktif organisasi dan pandai berbicara di depan umum. mereka memiliki kepribadian 180°. "Yah, emang ga enak mengakhiri sesuatu yang udah terlanjur kita bayangin masa depannya bakal kaya apa."
Todos los derechos reservados
#183
mawar
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • RIMBA MERUN
  • Ari dan Ara (Sudah Terbit)
  • Dibalik Topeng Casanova
  • Mentari Sebelum Hujan (SQUEL RAINA HUJAN TELAH DATANG)
  • LOVE IN BORNEO
  • The Love Triangel
  • BERLABUH | Pada Siapa? [Belum Revisi]
  • Arial & Adara
  • 30 Hari untuk Ari
  • ASEAN (TELAH TERBIT)

Di sebuah dusun terpencil, tersembunyi di jantung hutan tropis Lampung, berdiri sebuah sekolah bernama Rimba Merun. Di sanalah Bu Mar, seorang guru tua dari kota menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari demi sekolah ini tak di tutup. Bersama dua guru lainnya, ia mengajar segelintir anak dusun yang miskin dan sederhana. Murid-muridnya mayoritas berasal dari keluarga tak mampu. Di dusun itu, kebanyakan orang tak berpendidikan, hidup dari buruh kelapa sawit, dan pertanian seadanya. Sekolah dianggap sia-sia. Namun, para guru tak menyerah begitu saja dalam mendobrak lingkaran setan. Lalu datanglah ancaman. Perusahaan konglomerat sawit mengklaim bahwa tanah sekolah dan hutan di sekitarnya, termasuk dusun Rimba Merun, masuk dalam wilayah konsesi mereka. Pabrik itu akan menggusur tanah mereka. Bu Mar dan guru lainnya tidak tinggal diam. Bersama murid dan sebagian warga yang mulai sadar dan berani, mereka membangun perlawanan. Namun perjuangan tidak mudah. Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat terpecah dan merasa tak mampu karena yang mereka hadapi adalah koorporasi raksasa, sedangkan mereka, hanya orang miskin yang punya tanah dengan status warisan turun temurun. Ini adalah kisah tentang sekolah kecil di tengah hutan, tentang harapan guru-guru yang tak berhenti percaya menyalakan api pendidikan, tentang anak-anak yang tak berhenti bermimpi, dan potret masyarakat pedalaman yang bertahan hidup ditengah gempuran ekoonomi. Jika sekolah dan dusun itu hilang, bukan hanya bangunannya yang lenyap, tetapi juga seluruh mimpi mereka.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido