Lara
  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Sep 17, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Menangis dan menyakiti diri sendiri adalah rutinitas yang sering dilakukannya setiap malam. Clara Angeline, seorang remaja cantik yang berumur 18 tahun. Malam hari yang seharusnya untuk beristirahat namun susah untuknya. Clara hidup di keluarga yang lengkap dan berada namun tak pernah ia rasakan yang seperti itu, hanya penderitaan dan kekangan yang dirasakannya. " Persetan dengan bacotan kalian. Kalian pikir aku senang hidup dikeluarga ini. Setiap hari dikekang, harus jadi inilah, itulah. Dan parahnya lagi kalo enggk sesuai keinginan kalian, kalian sakiti tubuh aku. Hiks.., hiks..., aku benci saat aku menangis," teriaknya sambil terisak tepat di depan mata kedua orang tua nya. Sekarang aku tahu hidup seperti apa yang orang lain inginkan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Langit Yang Retak, Tak Selalu Hujan
  • Nayara [ TERBIT ]
  • Aku Belum Siap Dewasa {HIATUS}
  • DON'T CRY MOM, IM HERE FOR YOU!
  • ECCEDENTESIAST (COMPLETED)
  • Sefrekuensi {ON GOING}
  • I'm okay (END)
  • Alisa's Story

Kalara adalah kisah seorang perempuan yang tumbuh di tengah luka, rindu, kehilangan, dan kenyataan yang tak selalu bisa dipeluk dengan logika. Sejak kecil, Kalara terbiasa menekan perasaan dan menyembunyikan tangis. Ia hidup dalam bayang-bayang keluarga yang dingin, cinta yang tak utuh, dan suara-suara dalam dirinya sendiri yang terus bertanya: Apakah aku pantas untuk bahagia? Perjalanan Kalara bukan tentang menemukan seseorang yang menyelamatkannya, tapi tentang keberaniannya untuk menyelamatkan diri sendiri. Di setiap bab, ia jatuh, terluka, dan mencoba bangkit-bukan dengan cepat, tapi dengan jujur. Ia bertemu dengan sosok-sosok yang mengguncang jiwanya, menghadapi masa lalu yang menyakitkan, hingga pada akhirnya ia memilih untuk duduk bersama lukanya, mengenalinya, dan perlahan merawatnya. Dari ruang-ruang gelap dalam dirinya, Kalara mulai belajar bahwa pulang bukan selalu tentang tempat-tapi tentang berani tinggal di dalam tubuh sendiri. Ia memahami bahwa tidak semua luka harus sembuh, cukup ditemani. Bahwa kehilangan tidak selalu berarti hancur, dan kebahagiaan bukan tujuan, melainkan keputusan. Di akhir kisah, Kalara tidak menjadi versi sempurna dari dirinya-melainkan menjadi utuh, dengan segala pecahan yang ia terima dan rawat sendiri. Kalara adalah kisah pulang. Bukan ke rumah, bukan ke seseorang-tetapi ke dalam dada sendiri. Dan di sana, ia membangun rumah dengan tangannya sendiri. Rumah yang tenang, hangat, dan cukup. 💐

More details
WpActionLinkContent Guidelines