Baiklah, akan kumulai cerita ini. Bukan satu atau dua orang membenci hitungan, hanya saja hitungan, teori dan lain sebagainya membingungkan. Merepotkan pula. Aku tak habis pikir bagaimana banyak anak memilih kejuruan dan mata pelajaran menyangkut hitungan. Matematika. Ya, mata pelajaran yang paling tak kusuka. Kimia, Fisika dan hal menyangkut angka dan variabel lain, turut mengikuti dalam daftar ketidaksukaanku. Mana aku mengambil jurusan itu pula.
Bocah itu memang bodoh. Aku lelah terus mengajarinya. Bahkan terkadang sering mengatakan bahwa perkataanku tak beda jauh dari pengajar di depan, Alien katanya. Aku tak paham apa maksudnya. Aku benci mengakuinya tapi dia lumayan dalam hal bermusik, walau fakta lain lebih mendomisani kebodohannya. Jika bukan karena Ibu Yosi menyuruhku duduk di sebelahnya dan membantunya di jam istirahat, aku tak akan pernah mau berdampingan dengan si bodoh ini.
- Tera
Apa? Oh, preketek preketek katanya.
- Windu
Shyuttt....
Pesawat kertas itu mendarat tepat di hadapanku, tanpa kutahu siapa pengirimnya...
"Hai Tifa, besok jangan terlambat lagi ya!"
-aku-
"Sampai jumpa besok".
-aku-
"Selamat belajar. Ku harap aku tak mengganggu waktumu ya. Aku hanya ingin mengingatimu kembali. Besok jangan telat. Nanti kamu bakal dihukum."
-Aku-
"Hai, selamat malam. Aku mau mengatakan, bahwa roster kamu besok adalah olahraga, matematika, biologi dan bahasa Indonesia. Jangan sampai salah roster ya."
-Aku-
"Hai, selamat pagi. Selamat ya, hari ini kamu gak telat. Hehehe.... Oh iya, aku mau mengingati kamu kalau hari ini hari selasa. Semoga kamu gak lupa ya"
-aku-
Hari-hariku sungguh dipenuhi dengan tanda tanya, siapakah orang dibalik pesawat kertas itu? Mengapa dia terus menghantuiku seperti ini? Kuharap dia tak punya maksud buruk kepadaku...