Story cover for Count Or Art  by Babiijo
Count Or Art
  • WpView
    LETTURE 26
  • WpVote
    Voti 9
  • WpPart
    Parti 5
  • WpView
    LETTURE 26
  • WpVote
    Voti 9
  • WpPart
    Parti 5
In corso, pubblicata il set 17, 2022
Baiklah, akan kumulai cerita ini. Bukan satu atau dua orang membenci hitungan, hanya saja hitungan, teori dan lain sebagainya membingungkan. Merepotkan pula. Aku tak habis pikir bagaimana banyak anak memilih kejuruan dan mata pelajaran menyangkut hitungan. Matematika. Ya, mata pelajaran yang paling tak kusuka. Kimia, Fisika dan hal menyangkut angka dan variabel lain, turut mengikuti dalam daftar ketidaksukaanku. Mana aku mengambil jurusan itu pula. 





Bocah itu memang bodoh. Aku lelah terus mengajarinya. Bahkan terkadang sering mengatakan bahwa perkataanku tak beda jauh dari pengajar di depan, Alien katanya. Aku tak paham apa maksudnya. Aku benci mengakuinya tapi dia lumayan dalam hal bermusik, walau fakta lain lebih mendomisani kebodohannya. Jika bukan karena Ibu Yosi menyuruhku duduk di sebelahnya dan membantunya di jam istirahat, aku tak akan pernah mau berdampingan dengan si bodoh ini.
- Tera

Apa? Oh, preketek preketek katanya. 
- Windu
Tutti i diritti riservati
Iscriviti per aggiungere Count Or Art alla tua Biblioteca e ricevere tutti gli aggiornamenti
oppure
#447belajar
Linee guida sui contenuti
Potrebbe anche piacerti
Don't Talk About Money di catheryn99
55 parti Completa
Pernah ga sih? Kalian sekelas sama anak beasiswa yang ganteng banget, pinter banget, tapi juga sombong banget. Padahal dia tuh miskin banget :( Bukannya Irin judging nih, tapi pernah sekali waktu dia sekelompok sama Tama dan maksa buat kerkel di rumahnya untuk tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia, dan Irin baru tahu, ternyata di Jakarta masih ada ya rumah yang base nya dari kayu tanpa di semen. Letaknya dalam gang kumuh yang bau sampahnya kemana-mana. Tapi jujurly, kalian ga bakal lihat Tama seperti lingkungannya itu, walau dia juga ikut milah sampah yang bisa di daur ulang atau bisa dijual lagi sama bapaknya, semua hal ini yang mendukung Tama mendapat beasiswa untuk berkuliah di universitas terbaik, di tempat yang sama dengan Irin, lewat jalur surat keterangan tidak mampu. Tapi Irin sangat kagum sama Tama, bukan karena wajahnya aja yang tampan, walau hidup Tama terlihat jauh lebih susah dari Irin yang turun naik Jazz ke kampus, Tama ga pernah sekalipun terlihat mengeluh, ga kaya Irin yang perasaan hidupnya ngeluh mulu, malah pinter juga masih pinteran Tama, makanya Irin suka sama Tama, kalo kata Irin sih suka aja, ga yang gimana-gimana, tapi Irin tuh jadi suka ngintilin Tama, minta sekelompok sama Tama, minta diajarin Tama, mau makan bareng Tama atau bawain bahkan beliin Tama makanan, nawarin Tama balik bareng, mau main ke rumah Tama, sampai Tama tuh jengah, dan dari situ Irin menyimpulkan Tama sombong berikut berpemikiran sempit. "Kamu bisa ga? Ga usah dekat-dekat dengan saya? Saya ga butuh belas kasihan kamu, Irin. Jangan bawain saya makanan lagi, ga perlu tawarin saya pulang bareng kamu karena saya bisa sendiri. Jangan masuk ke dunia saya karena kamu tidak cocok. Kamu tidak perlu menempatkan diri sebagai saya karena kamu tidak tahu bagaimana kehidupan saya berjalan. Tapi di luar semua itu, saya bisa menjalankan hidup saya sendiri, tanpa bantuan kamu" Tapi, prinsip Irin tetap satu sejak awal. "Kamu lihat aja, kamu bakal balik dan ngemis cinta sama aku!"
Potrebbe anche piacerti
Slide 1 of 10
Nada Rahasia di Antara Kita cover
Harumi (END) cover
Kakelzone [Slow Update] cover
I'm Not Stupid cover
ELGITA  (TERBIT) cover
Viktor Bukan Vektor cover
Don't Talk About Money cover
I Love You AL cover
DEVANO cover
COOL BOY VS BAD GIRL cover

Nada Rahasia di Antara Kita

52 parti In corso

dari semua rumus matematika yang pernah ku pelajari, cuman satu yang belum bisa kupahami: kenapa hati bisa deg-degan tiap kali lihat sahabat sendiri jatuh cinta. Namaku Aluna. Di sekolah, orang orang manggil aku "ratu matematika"-judul yang kuterima bukan karena aku suka, tapi karena aku selalu jadi andalan pas ujian. Sahabatku ada dua: Arsen dan luci. Kami bertiga kayak sudut segitiga sama sisi-saling seimbang, saling menguatkan. Arsen, ketua OSIS merangkap bintang Pramuka, jago main gitar, dan gak pernah kekurangan kata-kata buat pidato. luci, cewek yang seolah punya dunia sendiri-bakatnya di gambar, suara merdunya, dan aksen Inggrisnya yang bikin guru pun diam. kami bertiga sudah bareng sejak kelas 10. dan di kelas 11 ini, semuanya masih sama. sampai satu hari, Arsen bilang sesuatu yang mengubah semuanya. "lu," katanya pelan waktu kami duduk di tribun belakang sekolah, "gue rasa... gue suka Luci."