Aku Alkasa.
Orang-orang normal mengira bahwa keluargaku adalah pemuja setan. Tertutup, tidak terekspos keluar, tapi memiliki uang yang tidak terbatas. Sedangkan orang-orang yang tahu siapa keluargaku sebenarnya, sudah cukup mengerti mengapa aku harus mengorbankan banyak nyawa untuk hidup.
Aku hidup di sisi dunia yang lain. Dunia gelap yang tidak semua orang mengetahuinya. Sebuah dunia mengapa orang-orang 'baik' bisa bersinar di luar sana. Tempat di mana aku dibesarkan sebagai putra tunggal salah satu dari mereka.
Mafia, bandar senjata ilegal, dan produsen obat-obatan terlarang. Itulah yang bisa aku deskripsikan tentang Ayah. Seorang pria yang menjadi pimpinan asosiasi gelap.
Pria yang mempekerjakan seorang gadis demi melindungi nyawaku yang dihantui kematian setiap detiknya.
Caramel. Hanya itu namanya.
Gadis aneh yang berusaha melindungiku dengan tulus tanpa meminta imbalan untuk membayar nyawanya. Seseorang yang membuatku merasa takut apabila ia tiba-tiba pergi dan menghilang begitu saja.
Winter, gadis skater serba bisa dari Thunder Clan, merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk ketika papanya tiba-tiba meminta, atau lebih tepatnya memaksanya untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah keluarga teman orang tuanya.
"Kalau adek nggak mau, papa bakal bakar semua deck yang rapi tertata di kamar adek sampai jadi abu."
Ancaman itu langsung menusuk hati Winter. Deck-deck itu bukan sekadar papan luncur. Mereka adalah bagian dari dirinya, saksi setiap kompetisi dan penopang semangatnya. Mana mungkin ia membiarkannya jadi korban amukan sang papa? Dengan terpaksa, ia pun menyanggupi pekerjaan itu meski artinya harus membagi waktu antara kuliah di Universitas Kwangya dan mengurus rumah keluarga majikannya.
Merawat empat anak di rumah itu sebenarnya bukan tantangan besar untuk Winter. Ia bisa dengan mudah mengatasi kelakuan si kembar usil, Jisung dan Ningning yang berusia tujuh belas tahun, juga kepolosan Sakuya yang berusia sebelas tahun dan si kecil Ian yang baru enam tahun. Semua terasa terkendali kecuali satu hal: Jaemin, si sulung yang tampaknya menjadikan Winter sebagai target utama untuk mencari-cari kesalahan.
"Bener kamu jago masak? Yakin nggak bakal mati kalau makan masakan kamu?"
"Otaknya pinter atau nggak sih? Sayang banget masa muda kebuang percuma. Kamu nggak minat nyambung kuliah?"
"Baru pagi-pagi aja udah ngilang. Kamu ke mana emang?"
Sumpah, kalau saja Jaemin bukan anak majikannya, Winter sudah lama melibas pria itu dengan deck kesayangannya. Menyebalkan bukan main. Namun, di balik semua adu mulut dan tatapan sinis itu, ada sesuatu yang samar. Perasaan yang pelan-pelan menyusup, tapi tak mungkin mereka akui.
Di tengah kesibukan menjadi mahasiswa sekaligus satu-satunya gadis di Thunder Clan, mampukah Winter bertahan menghadapi kelakuan Jaemin yang seakan bisa meruntuhkan dunia?
Dan apa yang akan terjadi ketika Jisung, Ningning, Sakuya dan Ian mulai menganggap Winter sebagai kakak mereka sendiri?