well, here we go!

well, here we go!

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 9, 2023
Awalnya Disya pikir, Menyukai seseorang yang bahkan ngga tahu kita hidup, itu merepotkan. Dan memang benar, melihat teman sekelasnya rela bolak-balik ke kamar mandi atau sengaja keluar kelas buang sampah demi bisa melihat orang yang mereka suka itu, sangat melelahkan. Tapi seiring berjalannya waktu, pikiran itu berubah. Semua orang berhak bahagia dengan cara mereka masing-masing. Termasuk seperti bahagia dengan mengagumi Kakak kelas, Misalnya? Pras, nama lengkapnya Prasetyo Ibra. Disya suka Pras, tapi Pras belum tahu kalo Disya ada di sekitarnya. Bagi Disya, bisa melihat Pras tersenyum seperti mendapat nilai 90, Disya jelas akan bersyukur dan berterima kasih untuk itu. Tapi Disya belum pernah mendapat nilai 100 untuk Pras. Karena sampai sekarang, Disya belum pernah bersitatap secara langsung dengan Pras. Dan untuk pertama kalinya di bulan April 2022, Akhirnya Disya dapat berinteraksi secara langsung dengan Pras! bukan lagi tentang bersitatap, tapi Disya mendapat ucapan selamat ulang tahun dari Pras. • • Welcome, happy reading!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Beauty and the Boss
  • Love Me, Love me Not?!
  • Jejak Kenangan di Masa MPLS
  • Pertemuan Yang Tidak Di Sengaja
  • Rasa Tanpa Suara
  • Zainrishya [END]
  • Bayang Keabadian ✔
  • HUMMING HEART [Completed]
  • SAHABAT SATU ATAP ✓
  • Aku Atau Dia! (COMPLETE)

"Bilang kalau kamu mau aku pergi. Bilang kalau kamu nggak suka aku hadir di hidup kamu. Say it if you mean it." - Benara Wijaya Kamuflase cinta. Penorehan luka. Hancurnya kepercayaan untuk bertahan. Kepalsuan dalam sebuah keluarga membuat Aluna Sarasita tidak akrab akan cinta. Sampai seorang lelaki tampan nan mapan yang merupakan pemilik hotel Saint Wijaya tempat mereka dipertemukan, menetap di dunianya bak lentera dalam gulita. Terdengar seperti omong kosong! Bahkan lelaki biasa pun enggan menerima Saras apa adanya. Namun, Benara Wijaya benar-benar berbeda. Saras tahu, menerima Ben adalah sebuah kekeliruan. Sekalipun lelaki itu berupaya meyakinkannya, kehidupan Ben yang sempurna tetap menjadi alasan bagi Saras beranggapan Ben tidak akan pernah memahami kondisinya. Mereka berbeda. Bak bumi dan langit. Bak hitam dan putih. Saras pun semakin yakin untuk menghapus Ben dari hidupnya. Tanpa peduli harapan yang telah dibangun oleh lelaki itu. Tanpa peduli ada hati yang hancur berkeping-keping karenanya. Lantas, berhasilkah Benara Wijaya membawa Saras pada akhir kisahnya? Mampukah ia menyadarkan Saras bahwa perempuan itu adalah luka sekaligus bahagia terindahnya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines