Geguritan Jawa

Geguritan Jawa

  • WpView
    Reads 44
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 23, 2022
Geguritan Jawa tanggapan saka geguritan J.F.X Hoery "Lumakua". J.F.X. Hoery: LUMAKUA Nora susah mangu-mangu apa kang ndok gayuh dadi pathoke lumaku Nora susah wedi ayang-ayang mu mung agawe rusake jiwa raga Antarane karep Ian wedi tuwuh pepati madhep mantep kuwi paitanira tansah ginegem ing manah sajroning jumangkah. Yayi, lumakuha, lumakua! Gusti tansah nyaliranira. Padangan, Bojonegoro Jaka Lodang
All Rights Reserved
#46
geguritan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja di Bandung
  • Waktu Bagian Semesta
  • KIDUNG JAYANEGARA: Nyanyian Jiwa yang Belum Usai
  • Semua Yang Sirna
  • Laut dan Langit
  • Crazy Phsyco||harukyu(slow up)
  • ARUNA Dalam Diam, Aku Tumbuh
  • Setulus Rasa Untuk Kehidupan
  • Bad Boy ❤ (END)
  • PIGURA ASMARA (End)

Dalam sekejap mata, kehidupan Senja berubah total. Seorang pemuda yang tumbuh dalam kehangatan keluarga sederhana, Senja menikmati hari-harinya diiringi oleh puisi-puisi ayahnya yang penuh kebijaksanaan. Namun, ketika sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa kedua orang tua dan adiknya, Senja harus menatap kenyataan pahit: ia yang tersisa, terperangkap dalam kesedihan dan kekosongan yang mendalam. Terjerumus dalam trauma dan duka, Senja merasa kehilangan arah dan tujuan hidup. Namun, di tengah gelapnya penderitaan, ia mendengar bisikan tentang Bandung-kota yang dipercaya sebagai "diciptakan Tuhan saat Tuhan tersenyum." Dengan sisa keberanian yang tersisa, ia memutuskan meninggalkan masa lalunya dan memulai perjalanan menuju Bandung, berharap menemukan secercah harapan dan penyembuhan bagi jiwanya. Di Bandung, Senja menemukan dunia yang berbeda, di mana sejarah dan seni berpadu dalam setiap sudut kota. Di tengah perjalanan itu, ia bertemu Arlana, seorang seniman jalanan dengan jiwa kritis yang mengerti bahasa keindahan dalam setiap goresan lukis dan nada gitar. Melalui pertemuan mereka, Senja mulai menulis kembali puisi-kata-kata yang dahulu menjadi warisan ayahnya. Setiap bait yang ia tulis adalah pengakuan atas luka yang dalam, sekaligus seruan untuk menemukan kembali arti hidup di balik kesedihan. "Senja di Bandung" adalah sebuah kisah yang mengangkat keindahan puisi sebagai penyembuh jiwa. Di antara deretan puisi yang mengalir, Senja dan Arlana menemukan bahwa setiap luka memiliki sajaknya sendiri, dan bahwa keindahan sering kali lahir dari penderitaan terdalam. Novel ini mengajak pembaca untuk merenungi bahwa meski hidup kerap dipenuhi kehilangan, dari kepedihan itu akan tumbuh harapan baru-sebuah perjalanan batin yang menuntun pada penerimaan diri dan keajaiban dari setiap kata yang terukir di dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines