jayandaru

jayandaru

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 3, 2023
-' malam temaram pada hangatnya pusat Jayandaru, aku menemukanmu, sebagai titik poros buana milikku, kala itu. kisah perihal langkahku, langkahmu jua Jayandaru yang jadi saksi bisu disaat masing-masing kita yang sibuk menahan afeksi canggung yang menderu, hingga terjun dalam asmaraloka yang kian bersemu saban waktu. kisah nona bratawati yang kehilangan candranya, dalam manis pahitnya skenario semesta yang bekerja. '- "Kamu yang menyadarkanku akan sebenar-benarnya keindahan langit yang ada. Namun, kamu pula yang membuatku berakhir luluh lantah, berdebam pada kenyataan pahit, pada luka yang tak berangsur sembuh. Kini, langit juga yang membawamu pergi dari dekapku" nona Bratawati. "Manusia itu datang dan pergi, Ra. Tidak ada manusia yang tetap menetap dalam satu rangkaian kisah seseorang. Pada masanya ia akan pergi. Entah atas kemauan sendiri, atau masa hidup yang rupanya berakhir. Sampai saat itu, sambut dan perlakukan dia dengan baik" tuan Candra. -- Menggunakan Bahasa Jawa Surabayaan, akan terdengar sedikit kasar.
All Rights Reserved
#338
02line
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Aksa Amerta
  • Dazed|SUNGJAKE (√)
  • RIFKI: 17 Tahun Bersama Abang
  • Luka Si Bungsu [HIATUS]
  • PITALOKA | Sekala Ruang Renjana
  • Loneliness and Yearning
  • LET ME TO SORROW | Jay Enhypen

"Kamu tahu, sejak kecil aku jatuh hati dengan laut. Laut seperti candu untukku. Tapi sejak kejadian itu, laut menjadi terlihat mengerikan dan penuh dengan misteri. Sehingga aku tidak lagi berani untuk menyelaminya terlalu dalam. Sama kayak kamu. Aku sudah (berhasil) jatuh hati denganmu, namun kini aku hanya bisa sampai di batas wajarku saja. Sebab kamu kembali menjadi misteri buatku." - Ashana Aruna. "Bagaimana jika yang dirindukan adalah orangnya? Bukan kenangannya?" - Aksara Rajendra. "Jika yang bisa kamu rindukan hanyalah seseorang tanpa kenangannya, maka sekarang 'kita' hanyalah fatamorgana yang tak kunjung usai. Sebab tanpa kenangan, 'kita' akan tetap menjadi asing." - Ashana Aruna. Aksara terdiam mendengar perkataan Aruna. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa seperti merindukan seseorang. Tapi sayang, sampai sekarang ia masih tidak bisa mengingat siapa orang yang selalu dirindukannya itu. Kecelakaan kapal pesiar yang ia tumpangi setahun yang lalu, membuatnya hilang ingatan. Seperti manusia yang terlahir kembali. Ia berubah 360° bahkan melupakan tunangannya sendiri, Ashana Aruna. Aruna ikut terdiam. Hening beberapa saat. Berada di samping Jean masih terasa hangat seperti dulu. Untuk yang kesekian kalinya, Aruna tidak ingin egois. Ia tidak ingin memaksa Jean untuk mengingatnya, sebab ada perempuan lain yang sekarang juga tengah menanti kepulangan seorang Aksara Rajendra. "Sepertinya semesta memang tidak menginginkan epilog untuk prolog yang telah terjadi antara kita, aku pamit ya Jean." ucap Aruna tersenyum tulus.

More details
WpActionLinkContent Guidelines