Misericordia Diaboli

Misericordia Diaboli

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 3, 2022
Di mulai dari kedua orangtua-ku. Ibu adalah perempuan desa, yang meninggalkan dunia perkuliahan-nya demi seorang pria. Benar, pria itu adalah ayah-ku. Mereka bertemu dalam satu kampus, dan jatuh cinta, Ayah adalah anak dengan keturunan yang bisa aku bilang, sangat mewah. Dia ingin ini-itu kedua orang tua ayah akan memberikan apa yang ayah mau. Namun ayah bukan orang yang manja, ia pekerja keras, ia menggapai juara dalam satu sekolah, juara internasional dalam mata pelajaran fisika, bahkan ayah memiliki perusahaan yang ternama sekarang. Oh? Apa? Menurut kalian aku kurang beruntung memiliki mereka? Tidak, bukan itu. Kedua orangtua-ku memang terlihat normal, namun, semenjak aku lahir, aku mengetahui bahwa aku adalah "down-fall" keluarga-ku. Ku kira aku hanya seorang yang sial di dalam keluarga-ku saja, namun sepertinya aku salah, aku lebih dari sekedar sial di dalam keluarga-ku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Puisi Kegagalan
  • ▓⟭▶▷ツcan i be a hero without Quirk?ツ◁◀⟬▓ [BNHA X OC!]
  • Fase dalam Lingkaran [Selesai]
  • Antara aku dan dunia
  • T R A G E D Y [END]
  • Berharap Denganmu
  • TARGETNYA SALAH (TAMAT)
  • Mutualism Symbiosis
  • THE DEMONIC YOUNGEST DAUGHTER

"Diandra, berapa umurmu sekarang ?" Aku menutup kembali gelas minumku. "23 tahun, Mas", jawabku singkat. Ruangan ini lumayan luas, masih ada beberapa pegawai yang nampak masih sibuk dengan pekerjaan mereka meskipun sekarang sudah jam pulang. Meja mas Naufal tepat berada disebelahku. Dia juga yang menjadi trainerku selama tiga hari pertamaku kerja disini, menjadi staff purchasing di perusahaan Ibuku sendiri. "Umurku 25 tahun, Di" Aku bingung mau memberi tanggapan bagaimana. "Apa aku salah kalau aku memacari perempuan kelas 2 SMA ?". Aku berhenti mengetik, kalimatnya seolah menghujam gendang telingaku. Dan untuk pertama kali dalam tiga hari ini aku menatap wajahnya. "Dia seolah malu dengan statusnya sebagai pacarku" Mas Naufal mengusap dahinya lalu mengacak rambutnya sendiri. Aku kembali menatap layar laptopku. Berlagak seolah aku biasa saja dengan ceritanya. Angka angka dalam neraca yang tengah aku kerjakan mendadak memudar. Berganti menjadi kepingan kepingan dari memori lampau. 7 tahun yang lalu...

More details
WpActionLinkContent Guidelines