HORTENSIA [TAHAP REVISI]

HORTENSIA [TAHAP REVISI]

  • WpView
    Reads 10,400
  • WpVote
    Votes 1,208
  • WpPart
    Parts 35
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Mar 7, 2025
Untuk luka masa lalu yang entah kapan akan sembuhnya. Juga kalimat-kalimat pahit yang sialnya harus dia telan meski sudah lelah dijejali itu semua. Dirinya pun ditinggalkan lalu dilupakan tanpa alasan. Sebelumnya Jenggala tidak tau mengapa Tuhan masih membuatnya bangun dan melanjutkan hari sampai sejauh ini. Tapi semakin lama, Ia jadi tau mengapa kehadirannya bukan sesuatu yang baik untuk ibu dan yang lain. Jenggala jadi tau mengapa Tuhan tidak membiarkannya mati saja. Jenggala jadi bisa menerima semua rasa sakit yang selama ini dia terima dari orang-orang. Bahkan Jenggala pikir, semua luka yang dia terima belum cukup untuk menebus kesalahannya. Jenggala tidak bisa lagi mengeluh karena ketidakadilan dan sekarang Ia mengerti sebesar apa dendam yang perlu dia hadapi. Mas Raden juga pernah bilang, bahwa mencari atau dicari itu ketika salah satu di antara kita hilang. Sedangkan Jenggala mulai ragu dan bertanya-tanya, "yang dia cari itu, benar-benar hilang?" ❝Maaf karna selalu membuatmu mengingat duka.❞ Note: revisi besar-besaran ©Kyumulliu 2O22
All Rights Reserved
#478
ditinggalkan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Renjana [COMPLETED]
  • GrapicH [✔] JOHNTEN FML
  • Mistakes In The Past || Complate
  • Maaf' (Revisi)
  • Langit Yang Tak Lagi Biru
  • Hi, Bye Mama [✔️]
  • A Place After Us (7 Dream) ✓
  • Second chance | Jenric AU

Pada malam paling temaram yang pernah seorang anak jumpai adalah kehilangan sepenggal bait kehangatan yang sepatutnya terus membersamai. Seorang anak yang sudah cukup dewasa sebagai pengganti bapak, seorang anak lain yang baru saja memasuki runyamnya semester tanggung di bangku perguruan tinggi, seorang lainnya lagi baru saja bersuka cita telah memasuki mimpi para anak muda seusia adiknya untuk melepas seragam sekolah, seorangnya lagi baru saja merasa bahwa masa SMA adalah kebebasannya, seorang lainnya lagi masih berkutat dengan permainan remaja tanggung di bangku menengah pertama, satu yang lain masih bersenang-senang pada masa anak-anak yang hendak remaja, dan satu lainnya yang terakhir masih bahagia dimanjakan dengan rambut yang terbelah dua. Namun pada hari itu, nyatanya semesta memberinya segenggam ujian yang harus ditanggung bersama karena kepergian ibunda. Syair-syair elegi selanjutnya mengiringi langkah mereka, mengantarkan satu tubuh yang sudah kaku karena kehilangan ruhnya. Mengantarkan keberangkatan sang ibunda pada tempat paling jauh yang tak bisa mereka singgahi untuk sekadar melepas rindu yang menumpuk dibalik pakaian basah yang baru dicuci, dibalik tumpukan piring kotor yang hendak dibersihkan. Dan lainnya yang menumpuk dan terus menumpuk, membiarkan hati mereka berat diduduki rindu yang tak pernah habis. Dan kemudian luka-luka tak pernah bisa disembuhkan waktu, ketujuh warna dalam keluarga Nawasena berakhir temaram dan kehilangan sukmanya. ©Jeta An Alternate Universe Renjana, 2021

More details
WpActionLinkContent Guidelines