Extraordinary girl

Extraordinary girl

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 10, 2022
Seorang gadis yang begitu cantik, dia istimewa, dia punya segala nya, namun sayang dunia tidak berpihak padanya. "Bagaimana cara nya aku bertahan, kalo dunia terlalu menekan, dan aku hanya sendirian" "Kenapa harus selalu aku yang dikorbankan disetiap permasalahan" "Apakah kehadiranku seburuk itu? bahkan semesta sepertinya tidak mengizinkan aku untuk bahagia?" "Mengapa? bahkan aku saja tidak pernah meminta untuk lahir, apalagi terlahir seperti ini, aku tidak tau lagi, rasanya perih . . ." Bertahan atau mengakhiri, apa yang akan dia lakukan diantara kedua pilihan bodoh itu? banyak hal keperihan yang dia rasakan semasa hidup nya, oh gadis yang manis, kamu terlihat kehilangan arah.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Raga Arga  [Sudah Terbit]
  • Different [END]
  • Deberìa Redirme? (End)
  • Kesepian
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • ALARA
  • BETWEEN

Jika ditanya apa yang spesial dari kehidupan si kembar, Raga dan Arga, mungkin jawabannya tidak ada, andai keduanya tidak pandai-pandai bersyukur. Bagaimana tidak, kepergian sang bunda menjadi titik awal kehidupan mereka yang sesungguhnya. Getir pahit melekat di dalamnya. Arga disalahkan oleh neneknya atas kepergian sang bunda. Lantas rasa bersalah dan trauma yang begitu besar terpatri kuat dalam dirinya, sejak saat itu hidupnya berubah seiring dengan jiwa yang bergonta-ganti mengisi raganya. Kadang, ketika bangun tidur Arga akan merengek layaknya anak kecil yang mencari bundanya. Kadang juga Arga menjadi sosok yang membenci dirinya sendiri, menghancurkan cermin yang ada di kamarnya, lalu berujung menyakiti dirinya sendiri. Raga, nyatanya wajah tampan dan unggul dalam basket tak lantas membuatnya dipandang. Bagi teman sekelasnya, Raga tak lebih dari sampah yang harus cepat-cepat dibersihkan. Bukan Raga tak mau melawan mereka, hanya saja rasanya percuma, mereka terlanjur menjadi budak sekolah yang gila nilai. Lalu, mampukah keduanya menjalani dan melawan segala getir pahit dalam kehidupan? Atau memilih menyerah, berpasrah pada Tuhan? *** Bukan skenario hidup seperti ini yang aku inginkan, memerani tiga tokoh sekaligus dalam satu kali kesempatan hidup. Andai bisa aku ingin terlahir kembali menjadi aku yang hanya satu- Samudra Arga Pratama Aku lelah menjadi senja yang ditunggu dan dikagumi di penghujung waktuku-Samudra Raga Dwitama *** Takkan gugur daun yang menguning itu jika memang belum habis waktunya. Takkan turun rintik hujan itu sekalipun langit telah menggelap jika memang belum saatnya. Pun dengan jantung yang takkan berhenti berdetak jika memang Tuhan belum berkehendak.

More details
WpActionLinkContent Guidelines