Dekade || Haechan

Dekade || Haechan

  • WpView
    Reads 139
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Oct 11, 2022
WpInfo
Fanfic
NCT
Selalu ada kata yang sangat sulit diucapkan walau sudah berada di ujung lidah, selalu banyak waktu yang terbuang untuk memikirkan kata yang ada di ujung lidah itu. Ardana hanya diam memandang langit selepas hujan tadi, Ia bingung bagaimana harus menggambarkannya, sebuah perasaan yang ada di dalam benaknya, beberapa bagian dari bajunya agak basah karena terkena air yang masih sesekali menetes ke bumi. Pikirannya sudah entah melayang kemana, beberapa momen dalam hidupnya berubah begitu cepat, hidup itu singkat, mengenal seorang Kartika selama satu dekade rasanya menyulitkan di akhir.
All Rights Reserved
#2
ncthalu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Sandyakala | Haechan
  • Pluviophile| LeeHaechan
  • (MELINGKAR) VOL. 2 ✔️
  • PROMISE - HAECHAN
  • Liontin Time (NominHyuck)
  • Eudaimonia

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines