Bait ini adalah bagaimana cara pandangku terhadap dunia yang membosankan, dunia yang selalu menjadikanku viguran diantara muak yang terlanjur ingin ku perjuangkan.
Di dalamnya tak cuma ada aku, tapi juga kamu, dia, dan orang yang seharusnya tak pernah ada.
Hidup adalah serangkaian tragedi, dimana kami telah kehilangan airmata untuk sekedar merayakannya.
Pada titik ini, bolehkah aku untuk....
.... menyerah, Tuhan?
***
"Kamu percaya makhluk immortal?"
"Kekal maksud lo?"
Yang ditanya mengangguk mantap, "Cerdas!" jawabnya.
"Jelas engga."
"Lo sendiri?" tanyanya balik.
"Percaya."
"Gak masuk akal." sanggahnya.
"Letak ga masuk akalnya?"
"Please deh, ga ada satupun studi penelitian yang menemukan bukti nyata tentang-"
"Tapi bukan berarti gak ada kan?"
Yang ditanya terdiam.
"Jadi maksud lo?"
"Makhluk immortal itu ada." Kalimat itu menggantung begitu saja di udara.
Pandangan sang gadis menukik pada salah satu laki-laki di pojokan kantin. "Aku, kamu, sama dia contohnya."
Terkekeh sesaat, "Ca, dimana-mana makhluk hidup itu gak ada yang abadi!"
"Iya kalo kita benar makhluk hidup,
-gimana kalo sebenernya dari awal kita ga pernah benar-benar 'hidup'?"
All Rights Reserved