Story cover for (NOT) A REPLACEMENT by _chinoraddam_
(NOT) A REPLACEMENT
  • WpView
    MGA BUMASA 28
  • WpVote
    Mga Boto 1
  • WpPart
    Mga Parte 1
  • WpView
    MGA BUMASA 28
  • WpVote
    Mga Boto 1
  • WpPart
    Mga Parte 1
Ongoing, Unang na-publish Oct 13, 2022
Target menikah? Aku gak pernah berpikir akan menikah di usia berapa tapi mungkin di usia 25 tahun cukup tepat. Untuk urusan siapanya, kurasa aku akan mencari yang seperti Bang Aksa. Dia itu tetanggaku lebih tepatnya abang sahabatku. Dulu aku pernah suka padanya atau bahkan dia adalah cinta pertamaku. Hal itu berlangsung lama sampai aku menginjak bangku kuliah dan lupa akan perasaan itu.

Jujur aku kaget saat mendengar dia akan dijodohkan dengan anak rekan bisnis papanya. Sepanjang malam aku menangis tapi tak bisa berbuat apa-apa karena aku sadar ini hanya cinta sepihak. Dan kami juga berbeda kasta, mereka orang berada sedangkan aku hanya biasa-biasa saja. 

Sudah enam bulan berlalu sejak sahabatku memberi tahu perihal perjodohan abangnya dan tiba-tiba dia membawa kabar yang entah baik atau buruk. Ternyata Bang Aksa gagal nikah. Banyak solusi yang berkecamuk di kepalaku tapi entah mengapa malah saranku ini menjebakku.
All Rights Reserved
Sign up to add (NOT) A REPLACEMENT to your library and receive updates
o
Mga Alituntunin ng Nilalaman
Magugustuhan mo rin ang
Magugustuhan mo rin ang
Slide 1 of 10
Prenuptial Agreement cover
Bukan Perawan Tua! [selesai] cover
Dear Zifrano, kenapa harus lo?  cover
Tak Akan Kemana cover
Gus Alfathar (SUDAH TERBIT) cover
TASYA & CALVIN cover
When Can You Love Me? (End) cover
Nikah SMA cover
Save The Marriage (Sudah Ada Di Play Store) cover
JODOH UNTUK PAK DOSEN   cover

Prenuptial Agreement

44 mga parte Kumpleto

"Tya, kapan kamu akan menikah?" tanya sang ayah. "Nanti, Yah, kalau sudah ada jodohnya," jawaban ringan itu yang selalu menjadi andalan Adistya. "Iya kapan?" tanya kembali ayahnya yang sepertinya tak sabar menginginkan sang putri untuk segera menikah. "Sabar kali, Yah, toh jodoh gak akan ke mana." "Jodoh memang tidak akan ke mana, tapi kalau gak ke mana-mana kapan dapat jodohnya." Kutipan itulah yang selalu ayahnya ucapkan. Membuat Adistya memutar bola matanya bosan. Ayahnya itu gemar menanyakan perihal jodohnya apalagi mengingat usianya yang sudah menginjak angka 27, usia yang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga sampai ayahnya gemar sekali mencarikan jodoh yang untungnya tidak pernah berhasil. Adistya lelah begitupun dengan sang ayah, sampai akhirnya sebuah kesepakatan mereka buat untuk perjodohan terakhir Adistya. Kebebasan sudah ada di depan mata, tapi harapan itu harus gagal karena dengan lancangnya kepala Adistya mengangguk mengkhianati hatinya.