Kita: Menyebutnya Cinta

Kita: Menyebutnya Cinta

  • WpView
    Dibaca 138
  • WpVote
    Vote 53
  • WpPart
    Bab 4
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sen, Okt 17, 2022
WpInfo
Fiksi
Romansa
Jalan yang ditempuh semakin terjal, udara mulai tercemar dan sinar matahari terasa sangat panas dampak perubahan iklim. Empat tahun sudah aku mengenal Senjani. Wanita karir itu sangat ingin menikah, kendati sebelumnya bercita-cita tidak menikah supaya dapat fokus membahagiakan kedua orang tua dan adik-nya. Jani selalu tampil apa adanya. Tidak pernah menutupi apapun, mengeluh, marah, menangis, tertawa terbahak-bahak, tersenyum cengengesan dan tersipu malu. Aku berusaha optimis menapaki jalan setapak, kendati banyak beban dipundak. Aku teringat ucapan Jani. "Hidup kita sudah terlalu pelik, kenapa kamu masih ingin peluk?" Aku anak pertama, memiliki tiga orang adik yang usianya tidak berbeda jauh. Senjani anak ketiga dari empat bersaudara, dua kakaknya menikah muda dan pergi meninggalkan keluarga. Jani mengambil alih tanggung jawab dua kakaknya, memperpanjang nafas keluarganya dan membiayai sekolah adik-nya. Kita memiliki cita-cita yang cukup realistis sebenarnya, menikah dan memiliki rumah. Tapi mampukah? kita menyebut perjalanan panjang ini cinta.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#574
wanita
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Apakah kamu ingin menikahiku?
  • Prema Sutram [Completed✔️]
  • My Bromance [18+] End
  • Terima Kasih, Rumah
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Perfect Duet
  • Pacaran Sama... Dokter Cuek! (Selesai)
  • When the Rain Stops Following Me

Saat Jin Nian hendak bertunangan, dia memergoki pacarnya yang mabuk menelepon cinta pertamanya sambil menangis. "Tolong beritahu aku bagaimana aku bisa berhenti memikirkanmu!" "Berhenti menangis. Kalian berdua sebaiknya menikah saja. Jangan pernah meninggalkan satu sama lain!" seru Jin Nian. Jin Nian membatalkan pertunangannya tanpa ragu, namun kerabatnya memarahinya karena tidak mengerti. Merasa lelah, Jin Nian menghubungi sahabat masa kecilnya, Lu An, di internet. "Apakah kamu ingin menikahiku? Kita mengenal satu sama lain dengan baik. Mari kita puas dengan pengaturan ini." Satu detik setelah dia mengirim pesan, Lu An menjawab. "Apakah bersamaku dianggap berhasil?" "Tidak tidak tidak. Anda memiliki rumah yang mahal dan mobil yang mahal. Kamu jauh di luar kemampuanku!" "Bawalah buku rumah tanggamu. Saya akan menemui Anda di depan Biro Urusan Sipil," kata Lu An. "Hah?" Jin Nian bingung. Itulah kisah bagaimana mereka menikah dalam sekejap. Suatu malam, mantan pacar Jin Nian menyadari bahwa dia tidak bisa melupakannya. Dia bersiap untuknya kembali bersamanya. Yang mengejutkannya, orang yang membukakan pintu adalah suami Jin Nian, Lu An! Lu An mengenakan jubah mandi, dan terlihat gigitan cinta di lehernya. Dia tersenyum samar. "Apakah kamu mencari istriku?" *** Suatu pagi setelah pernikahan mereka terbongkar, Jin Nian terbangun dengan perasaan pegal di sekujur tubuhnya. Dia tidak sengaja mendengar Lu An berbicara dengan seseorang di telepon. Dia sedang menyiram bunga di balkon, dan ada sebatang rokok di antara bibirnya. Dia mencengkeram ponselnya di antara leher dan bahunya. "Saya tidak peduli berapa banyak uang yang Anda tawarkan kepada saya. Yang aku inginkan hanyalah Jin Nian." Jin Nian terdiam. Dia tidak perlu membesar-besarkan kisah cinta palsu mereka! Belakangan, Jin Nian secara tidak sengaja menemukan sebuah buku tua di rak. Itu adalah hadiahnya untuk Lu An pada ulang tahunnya yang kedelapan

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan