Coffe Break Miracle (Why Love is Unpredictable)

Coffe Break Miracle (Why Love is Unpredictable)

  • WpView
    LECTURAS 1
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, oct 19, 2022
Lonceng berbunyi, pertanda ada seseorang yang masuk ke dalam kafe dengan desain minimalis. Perempuan itu memakai totebag dan memegang beberapa lembar kertas yang ukurannya tak beraturan. Perempuan itu memesan secangkir kopi hangat kemudian memilih tempat duduk di tempat yang paling ujung, dengan sofa yang bewarna abu-abu dan meja kecil yang terbuat dari kayu. Ia membenarkan posisi kacamatanya, lalu mengambil laptopnya dari dalam totebag yang sudah ia letakkan di atas meja kayu tadi. Sebelum menyalakan laptopnya, ia menghela nafas panjang. Aktivitas ini harus ia lakukan demi mendapatkan hasil yang maksimal dalam uji coba mengajar di salah satu sekolah di sekitar rumahnya. Terakhir kali ia mendapatkan hasil yang sangat memuaskan saat mengikuti ujian kelayakan menjadi seorang guru, oleh karena itu ia mendapatkan beberapa rekomendasi sekolah dari pihak penguji. Tanpa berfikir panjang, ia langsung memilih sekolah yang dekat dengan tempat tinggalnya.
Todos los derechos reservados
#150
vanilla
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Amami
  • Untuk Oreo dan Kamu [OG]
  • THE MIRACLE
  • Satu Atap, Satu Hati
  • Kopi & Deadline (On Going)
  • SENANDIKA (Zeedel)
  • KETOS AGAIN!!
  • Essentialy Love (SELESAI)
  • Nav's Stories
Amami

Riksa hanya anak badung dan biang onar di sekolahnya. Dia bebas melakukan apapun yang dia mau. Memang siapa yang akan melarangnya? Orang tua? Tidak ada. Bahkan baginya, rumah sudah bukan lagi tempat Riksa untuk pulang. Orang tuanya berpisah dan bodohnya lagi papanya masih mengharapkan istrinya kembali. Sedangkan mamanya... entahlah, mungkin wanita itu kembali pada cinta pertamanya. Atau bahkan lebih baik ia tidak usah kembali. Karena terakhir kali bertemu, mamanya hampir membuat nyawa Ester melayang. Namun di dalam hati, Riksa masih menginginkan kehangatan dan cintanya kembali lagi seperti dulu. Diam-diam berdoa dalam dan meminta waktu untuk bisa ia putar kembali. Tapi Riksa sadar, hal itu tidak akan terjadi karena ia bukan Tuhan. Sekarang lelaki itu hanya berharap bahwa suatu saat ada seseorang yang akan datang membawa cintanya yang hilang, sesuatu yang dulu sempat Riksa buang, sesuatu yang pernah Riksa lupakan, sesuatu yang dulu sempat ia rasakan di tengah keluarganya yang saat ini telah hancur. Jika seseorang itu mampu memberikannya semua itu dan memberikan satu hal lebih lagi pada Riksa, ia berharap orang itu pun mampu memperbaiki dirinya yang kini telah rusak serta mengisi kekosongan hatinya. Tapi selama waktu itu akan datang, Riksa harus berbuat apa? Apakah seseorang itu memang akan datang padanya? Jika tidak, dia harus bagaimana? Apakah Riksa harus terus berdoa pada harapan semu hingga akhir masa hidupnya?

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido