Coffe Break Miracle (Why Love is Unpredictable)

Coffe Break Miracle (Why Love is Unpredictable)

  • WpView
    LECTURES 1
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication mer., oct. 19, 2022
Lonceng berbunyi, pertanda ada seseorang yang masuk ke dalam kafe dengan desain minimalis. Perempuan itu memakai totebag dan memegang beberapa lembar kertas yang ukurannya tak beraturan. Perempuan itu memesan secangkir kopi hangat kemudian memilih tempat duduk di tempat yang paling ujung, dengan sofa yang bewarna abu-abu dan meja kecil yang terbuat dari kayu. Ia membenarkan posisi kacamatanya, lalu mengambil laptopnya dari dalam totebag yang sudah ia letakkan di atas meja kayu tadi. Sebelum menyalakan laptopnya, ia menghela nafas panjang. Aktivitas ini harus ia lakukan demi mendapatkan hasil yang maksimal dalam uji coba mengajar di salah satu sekolah di sekitar rumahnya. Terakhir kali ia mendapatkan hasil yang sangat memuaskan saat mengikuti ujian kelayakan menjadi seorang guru, oleh karena itu ia mendapatkan beberapa rekomendasi sekolah dari pihak penguji. Tanpa berfikir panjang, ia langsung memilih sekolah yang dekat dengan tempat tinggalnya.
Tous Droits Réservés
#243
vanilla
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • THE MIRACLE
  • The CEO I Once Loved [ SELESAI ]
  • Nav's Stories
  • Untuk Oreo dan Kamu [OG]
  • Obsess with you_(Greshan)[END]
  • Essentialy Love (SELESAI)

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu