Luka yang Hilang

Luka yang Hilang

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 19, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Sebagai seorang mahasiswi perantauan, Erika tinggal di sebuah kost-kostan biasa dengan fasilitas secukupnya. Setidaknya layak dan pantas untuk hidup setahun-dua tahun. Erika belajar di Universitas Garuda Muda, sebuah universitas swasta terbaik di negara kita. Bersyukur otaknya yang pintar itu membawanya kesana dengan beasiswa full juga biaya hidup. Itulah kenapa Erika bisa berkuliah meski orang tuanya hanya berjualan nasi kuning setiap pagi. Namun kisah hidupnya tidak berjalan mulus begitu saja. Erika mulai mengalami depresi hingga berencana mengakhiri hidupnya. Alasannya bertahan hanya orang tuanya yang menunggunya pulang setiap lebaran datang. Erika tidak ingin berdosa. Namun semesta tidak lagi memberinya hidup yang bahagia. Baca selengkapnya di Luka yang Hilang. Episode baru setiap Rabu dan Sabtu. Tinggalkan jejak disini ya ^^
All Rights Reserved
#21
kesehatanmental
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • Pe(luka)n ✔ [NEW]
  • Takdir Kalea [Revisi]
  • 15th Voltage [Tegangan 15] ✔(COMPLETED)
  • Cerita Tentang Kita
  • Esya {TERBIT}
  • Heart Breaker
  • Langkah Kecil di Dunia Farmasi
  • Berbahagialah Dengan Rumah Barumu
  • For Elise | Karina [End]
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines