Punya keluarga yang utuh dan hidup sederhana saja cukup bagi Amanda, segalanya terasa mudah pada awalnya. Ada Ayah dan Bunda, dan Armanta adik satu-satunya. Jangan lupakan, perjalanan cinta di masa putih abu-abu yang dia miliki. Semua tampak mulus, sampai suatu ketika suatu fakta memaksa Amanda harus keluar dari suasana nyaman yang dia rasa, lalu harus berjuang demi keberlangsungan hidup untuk dia, dan adiknya. Lalu semua menjadi semakin menyesakkan ketika salah satu orang yang harusnya menjadi tempat dia berbagi tiba-tiba pamit undur diri, Raka memutuskannya. Sempurna, Amanda benar-benar bingung apa yang salah dari semuanya, sampai dia jatuh dan merasa ketiban tangga. Beberapa tahun berlalu, hidup berjalan. Namun, siapa sangka, takdir ternyata masih bermain seperti gasing. Amanda bekerja dengan Raka sebagai pelayan a.k.a sekretaris Raka. Awalnya, hal ini bukan hal yang muda untuk Amanda, namun demi bekerja dengan sallary dan sesuai passion, sepertinya itu bukan pilihan yang terlalu buruk, lalu bagaimana Amanda bisa melewati hari-hari menghadapi Raka yang berubah drastis sejak bertahun-tahun lalu?
Desakan menikah mulai membuat Raka jengah. Memang, sebentar lagi usianya akan mencapai kepala empat, tapi sampai saat ini ia masih tak punya seorang wanita di sisinya. Bahkan, adik bungsunya sudah menikah.
Raka bukannya tidak mau menikah. Hanya saja, ia selalu disibukkan dengan pekerjaan. Sejak kematian orang tuanya, ia yang harus bertanggung jawab menjaga ketiga adiknya. Baginya, tak ada yang lebih penting dari adik-adiknya, dan perusahaan keluarganya.
Ketika salah satu sahabat ayahnya menawari Raka menikah dengan putrinya, Raka langsung setuju. Terlebih, wanita yang akan dinikahinya tak tertarik dengan perusahaan. Namun, Raka tak tahu jika wanita yang menjadi istrinya itu menyembunyikan kenyataan bahwa ia ... bermasalah.
Raka memilih wanita yang salah. Namun, bisakah ia melawan jika takdir yang dihadapinya? Pun ketika takdir menuliskan kata cinta, bisakah ia mengelak darinya?