Surat Terakhir

Surat Terakhir

  • WpView
    LETTURE 87
  • WpVote
    Voti 5
  • WpPart
    Parti 1
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione sab, nov 12, 2022
"Semua orang akan mati, bukankah begitu?" Sejujurnya, mendengar kabar duka ini, ia sukar memahami emosinya. Harus menanggapinya dengan cara bagaimana? Dan ini hanya menyisakan perasaan yang asing untuk Tinasih. Tentu saja, ia memahami bahwa cepat atau lambat, sekonyong-konyong atau dapat diperkirakan, bahwa detak jantung manusia kan terhenti. Tinasih dengan langkah yang tertatih menjangkau sebuah kaleng biskuit usang. Ia merogoh sebuah amplop surat, hanya amplop sederhana dengan hias tepi merah-biru. "Biarkan Tuhan dan alam semesta yang akan membacakan surat ini kepadanya." Perasaan asing ini, menyelimuti Tinasih disetiap langkahnya menuju rumah duka.
Tutti i diritti riservati
#45
wholesome
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • No Cerai No Pisah!
  • crazy, you guys are crazy
  • Reset | HeeSunSun
  • Fabula (Completed)
  • The Haze Of Love
  • A Light Far in Sight
  • jangan percaya seseorang
  • Elf Princess (The Final Of Story)
  • To the Happy Ending✓

Devon menyodorkan surat cerai tepat ke depan muka Rosa. Pria itu tak terlihat main-main. Pada akhirnya pernikahan yang mereka lalui tidak berhasil meskipun Rosa sudah mencoba sebisanya. Rosa menginginkan Devon. Sangat membutuhkan kekuasaan keluarga Wijaya yang berada di genggaman Devon. Dia tak bisa pergi, tak akan mau. Ketika Rosa tengah memutar otak untuk menunda perceraian ini, tiba-tiba saja petir menyambar Devon secepat kilat! "Ja-jangan mati!!!! Ambulans! Tolong, siapa saja panggil ambulans!" jerit Rosa dengan derai air mata bercucuran. Sementara itu, Devon bergeming di tempatnya. Asap-asap hitam mengepul keluar dari sekujur tubuh dan perickan listrik seperti melompat-lompat di atasnya. Namun bukan itu yang penting. Sebuah suara melengking yang pria itu kenal jelas, merasuki kepalanya dengan kurang ajar. Devon bisa mendengar suara isi pikiran Rosa tanpa sepengetahuan wanita itu. Dan darahnya dibuat mendidih. 'Siapa bilang laki-laki ganteng di dunia ini cuma Devon? Cuih! Manusia macam dia mending bertapa di gunung jadi biksu. Percuma dikasih istri secantik aku kalo matanya nggak dipake,' ujar Rosa dalam hati. Gigi Devon bergemeletuk menahan amarah. "ROSA!!" --- Baca lanjutannya di Innovel/ Dreame Gratis!

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti