Surat Terakhir

Surat Terakhir

  • WpView
    Membaca 87
  • WpVote
    Vote 5
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Nov 12, 2022
"Semua orang akan mati, bukankah begitu?" Sejujurnya, mendengar kabar duka ini, ia sukar memahami emosinya. Harus menanggapinya dengan cara bagaimana? Dan ini hanya menyisakan perasaan yang asing untuk Tinasih. Tentu saja, ia memahami bahwa cepat atau lambat, sekonyong-konyong atau dapat diperkirakan, bahwa detak jantung manusia kan terhenti. Tinasih dengan langkah yang tertatih menjangkau sebuah kaleng biskuit usang. Ia merogoh sebuah amplop surat, hanya amplop sederhana dengan hias tepi merah-biru. "Biarkan Tuhan dan alam semesta yang akan membacakan surat ini kepadanya." Perasaan asing ini, menyelimuti Tinasih disetiap langkahnya menuju rumah duka.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#265
hantu
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • To the Happy Ending✓
  • antara janji dan kenyataan : janji yg menyakitkan
  • Dalam Bayangan Ketakutan: Kumpulan Kisah
  • Jangan Pergi!
  • The Haze Of Love
  • Fabula (Completed)
  • Ashita 2  :   your Memory Of Darkness
  • The Stalker's Obsession
  • jangan percaya seseorang
  • Cover Me🕊️

Ketika kematian menjemputmu setiap saat, keinginan terbesar dalam hidup Zata adalah setidaknya sekali saja, sekali saja dia ingin mati dengan tenang! Kenapa ia selalu berakhir tragis dan menyedihkan seperti ini?! Dari mati sebagai gelandangan tunawisma di gang sempit, kelaparan sampai malaria, prajurit yang gugur di medan perang, dituduh penyihir sampai hukuman gantung, hampir semua jenis kematian sudah dirasakan oleh Zata. Dia sendiri bahkan terheran-heran bagaimana ia bisa terus menerus mengulang kehidupan dan kematian bagai lingkaran looping yang terus berputar, menjebaknya. Ketika akhirnya ia merasa bosan oleh kehidupan yang terus berulang ini, Zata menumbuhkan satu kebiasaan buruk yang bahkan ia sendiri tidak sadari yaitu, "Ah sudahlah, pada akhirnya aku akan mati lagi!" Begitulah yang sekiranya ia pikirkan sehingga sekarang baginya nyawa bukanlah sesuatu yang berharga lagi. Dia kerap mati konyol dalam insiden-insiden yang sebenarnya bisa ia cegah, hindari, atau malah atasi. Namun pada satu malam, di kehidupan yang entah ke berapa sekarang, di mana di kehidupan ini ia merupakan seorang pedagang kain, bersama para pedagang lainnya Zata berbaur dengan kalangan bangsawan yang tertarik dengan barang mereka. Di satu malam yang cukup mencekam, di pesta yang seharusnya meriah penuh suka tawa, sebuah pemberontakan, kudeta terjadi.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan