We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Jejak Suara Yang Fana

Jejak Suara Yang Fana

  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Nov 15, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
"Kalau aku bertahan, memangnya ada jaminan hidupku jauh lebih baik kedepannya?" "Loh memangnya kalau kamu menyerah, ada jaminan kamu akan masuk surga, sa?" "Lagipula, kenapa aku harus terlahir sebagai anak pertama sih?" "Huh, kali ini aku setuju, anak pertama terkadang menadapat beban yang lebih daripada yang lainnya." Berkali-kali Issa memiliki keinginan untuk menyerah, bahkan ia sudah tak memiliki ide lagi untuk menjalani hidupnya sendiri. ia tak menemukan ruang untuk berbicara terhadap dirinya, bahkan ia lelah harus bertengkar dengan pikirannya sendiri. namun, apakah pada akhirnya issa berhasil bertahan hingga akhir? atau justru menyerah di tengah perjalanannya? (don't forget to click follow and vote before read ! thank u) Dilarang plagiat, tolong menjadi bijak untuk para readers dan calon calon readers lain, hargai karya orang lain dan juga jangan sangkut pautkan cerita ini dengan orang lain. terimakasih yang sudah baca dan vote, hope u guys enjoy !
All Rights Reserved
#258
anakpertama
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Vericha Aflyn ✔️
  • Different [END]
  • ALEYA~~
  • RUMAH TANPA ARAH
  • Aku, Luka Dan Lupa
  • Shattered Soul
  • Rainbow
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Eliinaa

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines