Gugur Segala Kita

Gugur Segala Kita

  • WpView
    Reads 113
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 30
WpMetadataReadComplete Fri, Oct 28, 2022
WpInfo
Poetry
Kemana kita mengarah ketika mendaki perbukitan? Adalah puncaknya. Kita berjalan tanpa kenal lelah atau letih, dan memang pada akhirnya tiba. Tiba di puncak sana, dengan indah memandang matahari terbit. Lalu tak lama, kita mulai saling bertanya. Sama terdiam, "kemana kita sehabis ini?" Maka jawabannya adalah, turun. Kita akan meninggalkan puncak itu dengan seluruh keindahannya, membuang sia-sia seluruh perjuangan kita. Ini adalah sekumpulan puisi yang mengisahkan tentang gugurnya seseorang dalam pendakian tersebut, atau justru ia hanya sedang turun? Kita sama-sama tidak tahu, biarlah kalian yang menilai sendiri. Selamat membaca.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • JANJI DI ATAS AWAN [ END ]
  • Senandika : Titik Temu
  • Fragmen Waktu
  • Setelah Langit Berbisik (END)
  •  Mengikhlaskanmu Di Ujung Senja (PROSES REVISI)
  • A Love Lost Beneath the Blue
  • Waktu?
  • LEBUR JIWA [Lengkap]

Di antara langit yang membentang luas dan puncak yang menjulang tinggi, dua pasangan sejati melangkah dalam perjalanan yang lebih dari sekadar pendakian. Mereka mencari arti-tentang kebersamaan, tentang impian yang terjalin di setiap langkah, dan tentang janji yang pernah terucap, kini menunggu untuk ditepati. Angin gunung berbisik membawa kenangan, kabut menyelimuti jejak yang mereka tinggalkan, sementara matahari terbit di cakrawala menjadi saksi perjalanan hati yang tak hanya mendaki ketinggian, tetapi juga menapaki makna yang lebih dalam. Di atas awan, mereka menemukan bahwa cinta bukan hanya tentang sampai di puncak bersama, tetapi juga tentang bertahan dalam setiap badai dan berbagi hangatnya mentari di pagi yang dingin.

More details
WpActionLinkContent Guidelines