Gugur Segala Kita

Gugur Segala Kita

  • WpView
    Reads 100
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 30
WpMetadataReadComplete Fri, Oct 28, 2022
Kemana kita mengarah ketika mendaki perbukitan? Adalah puncaknya. Kita berjalan tanpa kenal lelah atau letih, dan memang pada akhirnya tiba. Tiba di puncak sana, dengan indah memandang matahari terbit. Lalu tak lama, kita mulai saling bertanya. Sama terdiam, "kemana kita sehabis ini?" Maka jawabannya adalah, turun. Kita akan meninggalkan puncak itu dengan seluruh keindahannya, membuang sia-sia seluruh perjuangan kita. Ini adalah sekumpulan puisi yang mengisahkan tentang gugurnya seseorang dalam pendakian tersebut, atau justru ia hanya sedang turun? Kita sama-sama tidak tahu, biarlah kalian yang menilai sendiri. Selamat membaca.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • A Love Lost Beneath the Blue
  • Together for Love
  • Laki-Laki Lebih dari Perempuan (Dalam Hal Patah Hati)
  • Senja Yang Sunyi
  • Mawar Dan Harapan
  • AKU KAMU DAN WAKTU
  • Waktu?
  • Fragmen Waktu
  • JANJI DI ATAS AWAN [ END ]

"Sebenarnya, siapa yang lebih aku butuhkan? Dia yang nyata di hadapanku, atau seseorang di masa lalu yang tak bisa kugenggam kembali?" Pertanyaan itu terus menggantung di udara-seperti kabut pagi yang enggan sirna, menggumpal di antara detak waktu yang tak pernah memberinya jawaban. Himeka Ocean, seorang perempuan yang terperangkap di antara bayang masa lalu dan kenyataan yang tak lagi ia pahami. Ia melangkah, namun hatinya terhenti di satu titik: di antara melupakan, atau terus terjatuh dalam jerat kenangan yang tak mau lepas. Di sisi lain, seorang lelaki, ia menjadi peneduh di bawah badai. Ia tinggal, bukan sehari atau dua, tapi bertahun-tahun. Ia mengusap air mata yang tak selalu terlihat, menjadi saksi luka yang tak pernah sembuh, menjadi penjaga dalam sepi yang tak pernah berakhir. Tapi bagi Himeka, itu belum cukup. Bukan karena ia tak bersyukur, tapi karena ada sesuatu yang terus dicari, terus dirindu-seseorang yang hanya hadir dalam lamunan-lamunan panjang dan sunyi. Malam demi malam, ia menelaah hatinya-seperti membaca buku tua yang penuh debu dan sobekan. Ia mencari, di setiap sudut yang pernah ia tutup rapat. Siapa yang selama ini ia tunggu? Cinta seperti apa yang hatinya dambakan? Apakah akhirnya Himeka Ocean akan menemukannya? Atau justru takdir menuntunnya membuka lembaran baru-dengan tangan gemetar namun tekad yang perlahan terbit dari reruntuhan dirinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines