Wei Wuxian tidak pernah gagal membaca garis merah takdir. Sejak muda, ia bisa melihat benang tipis yang menghubungkan orang dengan jodohnya. Semua orang punya, kecuali dirinya.
Selama tiga puluh satu tahun hidupnya, benang merah di jarinya hanya menggantung pendek-tak pernah memanjang, tak pernah menempel ke siapa pun.
Hingga hari itu.
Seorang pemuda magang masuk ruangan wawancara. Usianya jauh lebih muda, wajahnya tenang seperti patung dewa, tatapannya dingin. Dan tiba-tiba, benang merah di jari Wei Wuxian melesat... menempel lurus ke jari pemuda itu.
Wei Wuxian hampir menjatuhkan bolpoin.
"Nama?" suaranya terdengar serak.
"Lan Wangji," jawabnya singkat.
Tutti i diritti riservati