December Rain

December Rain

  • WpView
    Reads 192
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 8, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
"Gue gak suka hujan," lirihnya. "Sama seperti lo ga suka Desember?" Gadis itu menoleh mempertemukan mata bulatnya dengan manik hitam legam milik laki-laki di sampingnya. Ia menghela napas setelahnya. "Antara hujan sama bulan Desember, gue ga tau mana yang paling gue benci. Bulan Desember hari yang selalu, entahlah, agak mengecewakan." "Dan hujan?" "Hujan ngambil orang yang paling gue sayang dari gue."
All Rights Reserved
#254
band
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • rain
  • Alena, Si Gadis Hujan
  • rain untuk senja
  • Feathers
  • Can I Be Yours, Senpai?
  • The Rain
  • Rain
  • RAIN.
  • ALEA (COMPLETE)

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines