We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
FALL AGAIN

FALL AGAIN

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 15, 2022
WpInfo
Fiction
Paranormal
Malam yang sunyi disinari dengan cahaya bulan yang anggun, berdiri seorang gadis menatap purnama. Di balik mata nya yang indah terpancar cahaya bulan yang dingin. "Anggun dan Dingin, perpaduan yang manis" ucapnya dari balik bibir tipisnya yang tersimpul senyuman kecil di sertai setetes air mata yang jatuh.
All Rights Reserved
#470
laga
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Luka Anak Pertama ( Revisi )
  • The Sleeping Alpha
  • Nightfall
  • TRAP-Infernal Night
  • Pelangi untuk Hujan(on going)
  • DANGEROUS GABRIEL | Perjodohan (Complete)
  • Between Crown and Forest
  • DESTINY FOR DARKLAND
  • My Precious Luna (END)
  • BUALAN

Sejak kecil, Aira belajar bahwa menjadi anak pertama berarti harus mengerti lebih banyak dan meminta lebih sedikit. Ia harus menjadi contoh yang baik. Harus mengalah. Harus menjaga adik. Harus memahami keadaan orang tua. Dan yang paling penting, tidak boleh terlihat lemah. Setidaknya, begitulah yang selama ini ia pikirkan. Kini Aira telah dewasa. Ia memiliki pekerjaan, penghasilan sendiri, dan kehidupan yang dari luar tampak baik-baik saja. Namun, ada satu hal yang tidak pernah ikut tumbuh bersamanya: keberanian untuk mengatakan bahwa dirinya juga lelah. Setiap kali keluarga membutuhkan sesuatu, Aira berusaha menjadi orang pertama yang membantu. Ketika adiknya memiliki masalah, ia menjadi tempat bercerita. Ketika orang tuanya membutuhkan dukungan, ia berusaha ada. Tetapi ketika Aira sendiri membutuhkan tempat untuk pulang, ia tidak tahu harus mengetuk pintu siapa. Malam itu, setelah seharian tersenyum di hadapan banyak orang, Aira duduk sendirian di kamar. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya bertanya: "Kalau aku berhenti menjadi kuat sebentar, apakah aku masih akan disayangi?" Pertanyaan sederhana itu membuat dadanya terasa sesak. Mungkin selama ini Aira bukan tidak bahagia. Ia hanya terlalu lama lupa bagaimana caranya mendengarkan dirinya sendiri. Dan mungkin, sudah waktunya ia berhenti meminta maaf karena memiliki perasaan. Sebab menjadi anak pertama tidak seharusnya berarti harus mengorbankan seluruh dirinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines