Alisa Vanderbilt

Alisa Vanderbilt

  • WpView
    Reads 6,627
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 22, 2022
"Daripada kamu menggoda seperti jalang, kemarilah! Aku bayar!" Tindak pelecehan yang gamblang, terlalu diremehkan hingga membuat geram. Sekolah seharusnya menjadi tempat aman namun balik menyerang, merenggut suara perempuan. Alisa hanya ingin keadilan namun dia tidak tahu hal besar apa yang menanti. "Semakin sedikit yang kamu tahu semakin baik, berhentilah sebelum kamu terjebak." Untuk kenyamanan serta menghindari salah paham, mohon kebijakannya dalam membaca, ambil saja poin positifnya. Terimakasih:) 18+
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rains In Heaven (Huang Renjun)
  • Garusaturn [BL]
  • Accidental' (END)
  • Asia (Ataraska)
  • 4 PRINCE MAFIA [ON GOING]
  • DI BALIK ANDROMEDA (END/REVISI ULANG)
  • Air Mata Elara
  • ALESA|the beauty indigo (END)
  • My Duchess / End

"Kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba jadi peduli sama aku? Bukannya kamu benci sama aku?" "Karena gue gak mau ngulang kesalahan yang sama Raf." "Maksud kamu?" "Bukan apa-apa, udahlah gue cabut dulu. Lo tidur gih udah malem." ✿✿✿ "Pemirsa telah ditemukan potongan tubuh seorang remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun di dalam sebuah tempat penggilingan daging di dekat danau yang ada di daerah X. Di duga remaja laki-laki berinisial AR ini adalah korban pelecehan seksual yang dibunuh oleh pelaku dengan cara menggiling tubuhnya di mesin penggiling. Diduga sebelum tubuh korban dimasukkan ke dalam mesin penggiling daging, tubuh korban dimutilasi terlebih dahulu. Terdapat barang bukti berupa potongan pakaian dan cairan sperma yang ada di dekat mesin penggilingan. Sampai saat ini polisi masih menyelidiki siapa pelaku dari tindakan tak manusiawi ini." Pada akhirnya semuanya hanyalah kesia-siaan saja. Manusia terlalu mudah memutuskan sesuatu saat tengah emosi dan terkadang keputusan yang mereka ambil menjadi kesalahan terbesar yang mereka miliki....

More details
WpActionLinkContent Guidelines